Rabu, 28 September 2011

Mexico: SEKOLAH-SEKOLAH DI ACAPULCO MULAI KOSONG


Para guru di Acapulco, Mexico, sudah hampir tidak bekerja selama sebulan karena ancaman-ancaman dari kelompok geng yang terus menuntut supaya sebagian dari gaji para guru diberikan kepada mereka. Melalui pesan sms, pamflet yang ditempel di pintu sekolah atau melalui orang-orang tidak dikenal para guru menerima informasi bahwa “sejak tanggal 1 Oktober nanti sebagian gaji duru harus diserahkan kepada mereka”.

Di sebuah Sekolah Dasar di daerah Pie de la Cuesta, mereka menerima kunjungan seorang “komandan” yang dari kelas ke kelas, disaksikan oleh para murid, melakukan aksi perampasan kepada para guru.

Para guru yang sedang berdemo sejak satu bulan lalu, meminta kepada pemerintah negara bagian Guerrero untuk menjamin kehidupan mereka supaya tidak menjadi korban para pengacau yang meminta sebagian gaji mereka atau mereka akan diculik.

Situasi di Acapulco atau di wilayah Guerrero pada umumnya setiap hari semakin mencekam. Para pengamat menyatakan bahwa perang antara dua kelompok kriminal (geng), tidak hanya menciptakan kekerasan antara kelompok atau “mantan anggota kelompok”, melainkan juga menciptakan situasi baru, yakni mencari pemasukan bagi kelompok kriminal tersebut dari masyarakat yang tinggal di sana. Penculikan dan gangguan yang terjadi di Acapulco selalu diimingi dengan permintaan bayaran duit dari masyarakat yang tidak bermasalah atau tidak memiliki hubungan dengan kelompok gang kriminal.

Sekarang para pengacau atau kelompok kriminal tersebut mengancam jika para guru tidak kembali ke kelas, maka mereka akan menyandera 10 guru setiap harinya. Dan ini membuat para guru gusar dan takut sehingga banyak yang tidak bekerja. Tidak hanya itu akhirnya orang tua murid harus turun tangan, karena para guru meminta orang tua murid untuk membayar 180 peso (10 Euro) per keluarga. Uang tersebut akan mereka serahkan kepada para kriminal, supaya mereka tidak diculik.

Sumber: http://actualidad.rt.com/actualidad/america_latina/issue_30262.html

Mexico: KELOMPOK "MATA ZETAS": PELINDUNG MASYARAKAT ATAU PEMBUNUH MASYARAKAT?


Kekerasan di Mexico sepertinya memasuki tahap baru. Kemarin pemerintah Mexico menemukan sebuah video di internet yang menamakan diri mereka kelompok “Los Mata Zetas”. Video yang berdurasi selama lima menit tersebut berjudul “Mata Zetas Informando 2011” (Mata Zetas menginformasikan tahun 2011). Video ini menggambarkan sekelompok orang bersenjata bersenjata lengkap dengan penutup wajah dan berpakaian hitam. Mereka menyatakan diri mereka sebagai “penanggungjawab” atas kematian 35 orang yang mayatnya ditaruh di jalan raya di Boca de Rio.

Mereka memproklamirkan diri mereka sebagai “tangan kanan bersenjata dari masyarakat dan untuk masyarakat” dan menunjukkan bahwa mereka akan melakukan pertahanan diri dengan cara kekerasan untuk melawan para bandit kartel yang selalu menyerang “orang-orang yang tidak dilindungi”.

“Tujuan unik kami kami adalah kelompok kartel Los Zetas. Kami menghormati Kekuatan Angkatan Bersenjata yang kami mengerti bahwa mereka tidak bisa bertindak di luar hukum seperti yang kami lakukan. Sebagai prinsip etis, kami memiliki larangan untuk mengancam, menculik, mencuri, menghina dan semua perbuatan yang dengan caranya sendiri merusak patrimoni nasional, keluarga, semangat dan moral”, kata kelompok ini.

Video ini masih diselidiki oleh pemerintah Mexico, karena menimbulkan polemik bagi masyarakat. Masyarakat bertanya-tanya apakah kelompok ini benar-benar kelompok yang melindungi masyarakat atau kelompok yang “membunuh” masyarakat.
Sumber: http://actualidad.rt.com/actualidad/america_latina/issue_30247.html

Nicaragua: PIHAK OPOSISI MENUDUH PRESIDEN DANIEL ORTEGA SEBAGAI "RACUN" DALAM PEMILIHAN UMUM TANGGAL 6 NOVEMBER NANTI


Nicaragua akan melakukan pemilihan umum pada tanggal 6 November nanti. Pihak oposisi di Nicaragua menolak tuduhan “meracuni” kampanye pemilihan umum seperti yang dituduhkan oleh Presiden Daniel Ortega. Mereka bahkan menuduh balik Presiden Daniel Ortega “mengkontaminasi” pemilihan umum tanggal 6 November nanti karena mencari polemik dengan mencalonkan dirinya kembali sebagai calon presiden yang tidak sesuai dengan konstitusi Nicaragua. Kaum oposisi sepakat dengan menyatakan bahwa “racun yang sesungguhnya” dalam pemilihan nanti adalah Ortega, yang mereka lihat sebagai seorang calon presiden inkonstitusional.

“Ortega harus mewarnai kampanyenya dengan perbuatan bukan dengan kata-kata”, kata calon wakil presiden oposisi, Edmundo Jarquín. Menurut Jarquín, pemerintahan sandinista memerintah komisi pemilihan umum untuk menolak “ribuan orang Nicaragua” yang memiliki kartu identitas mereka untuk melakukan hak mereka untuk memilih. Dia juga menyatakan bahwa pemerintah akan melarang organisasi internasional dan lokal seperti Carter Centre dari Amerika Serikat untuk mengawasi pemilihan ini.

Calon wakil presiden dari aliansi oposisi Partai Liberal Independen (PLI) menolak dan menyatakan bahwa Ortega menggunakan mobil transportasi publik bagi simpatisannya demi kepentingan partai. Perbuatannya ini mengakibatkan ribuan warga masyarakat lainnya harus berjalan kaki karena kurang pelayanan transportasi publik. Juga dia menyatakan bahwa pemerintah Nicaragua menggunakan “aksi kekerasan” untuk mendiamkan aksi protes kaum muda oposisi. “Secara definitif Ortega meracuni kampanye pemilihan”, katanya.

Hari Sabtu lalu, pemimpin sandinista (Ortega) tersebut meminta kepada mereka yang tidak setuju dengan “perencanaanya” untuk melaksanakan pemilihan umum dengan “senang”. “Tidak seorangpun menang dengan meracuni pemilihan ini” katanya dan dia menyakinkan bahwa “apa yang harus kita buat adalah membuat pemilihan ini menjadi sesuatu yang menyenangkan”.

Sementara calon wakil presiden dari Partai Liberal Konstitusionalist (PLC), Francisco Aguirre Sacasa, mengindikasikan bahwa apa yang dibuat Ortega menunjukkan “situasi riil negara ini”. Mantan Menteri Luar Negeri dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat tersebut menjelaskan bahwa kenyataan riil negara ini adalah: keterlambatan dan keterbelakangan dalam pemerintahan; sistem ekonomi yang membuat Nicaragua sebagai satu dari tiga negara paling miskin di Amerika Latin. Sementara anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Mónica Baltodano, menggarisbawahi bahwa Ortega adalah “racun yang sesungguhnya dan sangat berbahaya” dalam pemilihan nanti, karena menggunakan fasilitas negara secara berlebihan dan pencalonan dirinya adalah inskonstitusional. Baltodano mengeritik pencalonan pemimpin sandinista tersebut, karena menghancurkan disposisi konstitusional yang menolak pemilihan kembali seorang presiden yang sedang berkuasa. “Racun yang paling mendasar adalah memperkosa Konstitusi” katanya.

Presiden Daniel Ortega mencalonkan dirinya kembali sebagai presiden dalam lima tahun mendatang walaupun secara konstitusional dilarang. Dalam pemilihan umum tanggal 6 November nanti, kurang lebih 3.4 juta orang Nicaragua akan memilih seorang presiden baru, wakil presiden, 90 anggota Parlemen dan 20 anggota Parlemen Amerika Tengah (Parlacen)

Sumber: http://www.diariolasamericas.com/noticia/128379/30/oposici%C3%B3n-dice-que-ortega-es-el-overdadero-veneno-de-la-campa%C3%B1a-en-nicaragua

Selasa, 27 September 2011

Venezuela: CHAVEZ MENYATAKAN BAHWA DIRINYA AKAN SEGERA PULIH DARI PENYAKIT KANKER YANG DIDERANYA


Presiden Venezuela, Hugo Chavez, menyatakan bahwa dirinya sedang pulih dari dampak kemoterapi terakhir atas penyakit kanker yang dimilikinya, walaupun dia juga mengakui bahwa kekuatan fisiknya sedikit menurun.

“Saya sedang dalam proses pemulihan dari empat tahap kemoterapi yang saya jalankan, dan kemoterapi ini sangat kuat”, katanya melalui telefon kepada TV nasional, setelah mengumumkan penundaan kunjungan Presiden Iran, Mahmud Ahmadineyad, yang seharusnya mengunjungi Caracas kemarin, tetapi ditunda setelah Presiden Chavez sembuh. Chavez menyatakan bahwa “semua gejala penting menunjukkan hasil yang baik, terus dalam pemulihan yang baik” dan “sangat beruntung bahwa kemoterapi ini tidak mengganggu organ-organ vital kehidupan saya”. “Tidak satupun organ yang rusak, karena kadang-kadang pengobatan kemoterapi memiliki dampak yang merusak, tetapi dalam kasus saya, beruntung sekali saya tidak mendapat masalah itu”, kata Chavez yang hari Kamis lalu kembali dari Cuba setelah melewati masa kemoterapi ke empat di Cuba.

Namun demikian, Chavez menyadari bahwa dirinya “harus berhati-hati di masa-masa yang akan datang”, khususnya “dalam hal ketahanan tubuhnya”. “Kekuatan fisik saya sudah tidak sama seperti sebelumnya, sedikit menurun, terutama karena sel darah merah yang sedikit mengalami dampak kemoterapi, walaupun sekarang sudah mulai pulih”, aku Chavéz. Chavez ingat bahwa minggu lalu, sebelum mengikuti kemoterapi di La Habana, dia mengalami “sedikit infeksi di tenggorokan”, yang membuatnya sedikit flu, namun dapat diatasinya dengan cepat.

“Saya sedang memanfaatkan masa-masa pemulihan saya, untuk belajar lebih banyak, untuk istirahat sedikit, untuk mempersiapkan diri saya lebih baik lagi dalam kampanye yang akan datang, yang sudah pasti ketat dan keras, tetapi kita pasti menang”, kata Chavez yang akan mencalonkan dirinya sebagai calon presiden dalam pemilihan umum tahun 2012.

Dalam hal ini, Chavez melakukan sebuah ajakan kepada seluruh masyarakat Venezuela supaya “jangan ditipu oleh kata-kata indah, wajah-wajah baru, nama-nama segar dan baru atau rencana-rencana baru dari laboratorium”, yang dimaksudkannya adalah para wakil dari partai oposisi.

“Janji dan keinginan saya adalah untuk hidup bersama saudara sekalin, dan bukan untuk saya; apa yang sudah saya lakukan adalah membangun saudara sekalian. Saya memiliki beberapa keinginan besar, keinginan untuk terus hidup dan menggunakan setiap hari hidup saya lebih berguna”, kata Presiden Chavez yang berjanji untuk segera berada di jalan-jalan di Venezuela.

Chavez yang dioperasi karena tumor pada tanggal 20 Juni lalu di La Habana, telah mengatakan dalam beberapa kesempatan bahwa tidak ada sel kanker dalam tubuhnya, dan saat pulang dari Cuba dia meminta supaya jangan mengikuti begitu banyak rumor tentang kesehatan dirinya.

Presiden Chavez tidak hadir dalam Sidang Umum PBB karena masalah kesehatan, alasan yang sama mengapa Ahmadineyad menunda kunjungannya ke Caracas, seperti yang diumumkan oleh Menlu Venezuela, Nicolás Maduro.

http://www.diariolasamericas.com/noticia/128397/32/ch%C3%A1vez-dice-que-se-recupera-favorablemente-de-oimpactos-de-la-quimioterapia

Bolivia: KETIKA PEMERINTAH "INDIGENA" MENEKAN MASYARAKAT "INDIGENA"


Kemarin ratusan polisi membubarkan secara brutal para perempuan, anak-anak, orang tua dan kaum indígenas yang melakukan demonstrasi sejak 41 hari lalu untuk “mempertahankan daerah, martabat dan kehidupan mereka”. Sebuah tekanan dari sebuah pemerintahan indígena dengan seorang presiden indígena kepada masyarakat indígena.

Dewan Komunikasi dari para demonstran melaporkan bahwa seorang bayi indígena yang berumur tiga bulan meninggal dunia, karena mendapat serangan gas air mata yang digunakan polisi, 37 orang dilaporkan menghilang, diantaranya 7 anak-anak, dan kurang lebih dua ratusan orang yang ditahan akhirnya dibebaskan karena aksi solidaritas masyarakat. Beberapa tokoh penting dari demonstrasi ini menekankan kembali bahwa mereka akan terus melakukan demonstrasi mereka menuju La Paz pusat pemerintahan Bolivia.

Kaum indígenas dari Konfederasi Timur, Chaco dan Amazon (CIDOB) dan Dewan Nasional Ayllus dan Markas dari Qollasuyo (CONAMAQ) mulai melakukan demonstrasi mereka tanggal 15 Agustus lalu, yang sudah memasuki hari ke 41 dalam perjalanan sejauh 310 km menuju La Paz.

“Kaum indígenas di seluruh Bolivia merasa dihina dan menderita secara mendalam karena aksi pemerintah. Pemerintahan ini berjanji kepada kami untuk melakukan perubahan: menghormati hak-hak kaum indígenas, menghormati tanah ibu kami (madre tierra), menghormati budaya kami, menghormati kebebasan kami untuk menentukan sikap; tetapi dalam lima tahun pemerintahannya tidak satupun dari janji tersebut yang dijalankannya. Polisi-polisinya telah menekan dan menendang kami, layaknya kami seperti binatang; dan kejadian ini tidak bisa kami tolerir”, kata pemimpin utama masyarakat indígena, Adolfo Chávez.

Perkemahan para demonstran indígena diangkut dan dibakar oleh para polisi, beberapa orang dipukul dan diikat, beberapa orang bisa lari ke pegunungan dan beberapa orang lagi masih menghilang. Para wartawan yang meliputi peristiwa aksi penekanan ini dipukul dan alat rekaman mereka ditahan bahkan kaum medis yang menolong masyarakat indígenas dipukul oleh polisi. “Seorang petugas medis, mereka ikat, kemudian dipukul dan sekarang ini ada di rumah sakit, sedang dilakukan radiografi untuk memfoto jika ada luka di tulang iganya”, kata Direktur Rumah Sakit San Borja, Javier Jiménez.


Sementara pemerintah mencoba untuk membenarkan tekanan kekerasan polisi melawan para demonstran, Menteri Pertahanan Nasional, Cecilia Chacón, mengundurkan diri dari jabatannya setelah melihat masalah ini. Dalam sebuah surat yang dikirim ke Presiden Evo Morales, Cecilia Chacón, menyatakan, “Saya mengambil keputusan ini karena pemerintah tidak membagikan rencana intervensi mereka terhadap para demonstran dan karena itu saya tidak bisa mempertahankan atau membenarkan perbuatan mereka; karena sebenarnya masih ada alternatif lain untuk melakukan dialog”. “Tidak dengan cara seperti itu!! Kami memiliki persetujuan dengan masyarakat untuk melakukannya dengan cara yang lain”, tambah Cecilia. Seperti yang terjadi pada pemerintahan neoliberal, Menteri Pemerintahan, Sacha Llorenti mengungkapkan bahwa diambilnya jalan untuk mengevakuasi para demonstran untuk menjaga ketahanan fisik mereka.

Intensi pemerintah untuk membubarkan demonstrasi kaum indígenas secara paksa ditentang oleh berbagai kalangan masyarakat dengan melakukan mobilisasi dan memblokir jalan dan bandar udara yang terjadi di beberapa daerah di wilayah timur Bolivia.

Wakil dari Gereja Katolik dan agama-agama lain, PBB, Pertahanan Sipil, Dewan HAM dan berbagai institusi mengeritik aksi pemerintah dan menyatakan bahwa kejadian penekanan terhadap masyarakat indígenas bukan bagian dari demokrasi. “Kami menuntut pemerintah nasional untuk menolak jalan penekanan, persekusi dan kekerasan karena tidak menyelesaikan masalah dan menunjukkan aksi dialog dan mempertahankan hak-hak masyarakat Bolivia, khususnya masyarakat yang lebih miskin dan lebih membutuhkan”, kata Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja Bolivia, Uskup Oscar Aparicio. Sebagai seorang pastor yang menggembalakan umatnya dia memberikan pesan kepada umat Bolivia, “kekerasan menolak harkat dan martabat manusia”. Sementara Presiden Dewan HAM Bolivia, Yolanda Herrera, menyatakan bahwa para demonstran tidak menerima bantuan air dan bantuan kemanusiaan.

Berhadapan dengan kebrutalan polisi, di beberapa daerah di Bolivia terjadi tekanan dari berbagai pihak yang mendukung tuntutan kaum indígenas dan menolak politik pemerintahan. Perkumpulan Pekerja Bolivia, yang adalah organisasi para pekerja tertinggi di Bolivia, menyatakan bahwa mereka akan melakukan mogok nasional.

Sejak hari pertama demonstrasi, pemerintah mencoba untuk mengkriminalisasikan kaum indígenas dengan menuduh mereka secara publik dengan memanipulasi dan didanai oleh LSM dan yayasan, oleh perusahaan kayu dan peternakan, oleh kedutaan Amerika Serikat dan USAID, oleh partai politik aliran kanan, tetapi tidak satupun tuduhan tersebut bisa dibuktikan. Semua tuduhan yang dialamatkan ke kaum indígenas membuat kaum indígenas semakin bersemangat untuk melanjutkan demonstrasi mereka.

Tuntutan utama kaum indígenas adalah penolakan pembangunan jalan raya yang melewati pusat Wilayah Indigena yakni Taman Nasional Isiboro Sécure (TIPNIS). Kaum indígenas mempertahankan apa yang dikatakan oleh Konstitusi Politik Negara yang baru dan pemerintah menginjak politik tersebut.

Yang jelas bahwa tekanan polisi terhadap kaum indígenas membuat orang bertanya-tanya tentang “proses perubahan” di mana “pemerintahan indígenas” dan “pemerintahan revolusi sosial” sedang dilancarkan. Proses perubahan merupakan faktor fundamental dalam kebudayaan berdialog, budaya perdamaian dan budaya kehidupan, tetapi kemarin faktor-faktor fundamental ini diinjak oleh budaya penekanan, budaya kekerasan dan budaya kematian.

Sumber: http://www.alainet.org/active/49705

Mexico: PARA WARTAWAN MENJADI KORBAN KEKERASAN PEMBUNUH BAYARAN


Seorang wartawati Mexico, yang mencoba menulis dan membongkar masalah kriminal di jaringan sosial dengan menggunakan nama samaran “La nena de Laredo”, tidak bisa menghindar dari kejahatan para pembunuh bayaran. Tubuhnya dipotong oleh para pembunuh bayaran.

Mayat tanpa kepala dari Maria Elizabeth Macías, yang berumur 39 tahun, kepala redaksi dari harian “Primera Hora” di Nuevo Laredo, ditemukan hari Minggu lalu di sbeuah perkampungan di Nuevo Laredo, negara bagian Tamaulipas. Di tempat yang sama ditemukan juga pesan dari para narkotrafik yang menggarisbawahi bahwa Maria E. Macias menggunakan jaringan sosial untuk membongkar jaringan kelompok kriminal.

Mike O´Connor wakil dari Badan Perlindungan Wartawan di Mexico menyatakan bahwa di Tamaulipas “tidak ada lagi surat kabar yang dipercayai sejak lama. Apa yang dikatakan oleh para wartawan dari sana, jika mereka mengatakan yang benar, maka mereka akan dibunuh”.

Hal yang sama juga dinyatakan oleh Yayasan MEPI, “Mexico, spiral baru dalam aksi diam”, setelah menganalisis 11 surat kabar di daerah itu dan mengambil kesimpulan bahwa, karena ketakutan akan kekerasan kaum narkotrafik mereka akhirnya seringkali untuk memilih diam.

Untuk melawan kekosongan informasi ini, banyak masyarakat mulai menggunakan jaringan sosial untuk mengumumkan berbagai aksi kekerasan yang terjadi di jalan-jalan Mexico khususnya di daerah Tamaulipas. Dan banyak dari mereka yang harus membayarnya dengan nyawa mereka sendiri. Pada tanggal 13 September lalu di Nuevo Laredo ditemukan dua mayat yang digantung di jembatan penyeberangan dengan ancaman bagi masyarakat di sekitarnya untuk tidak menggunakan jaringan sosial di internet untuk membongkar kejahatan narkotrafik.

Kematian yang mengerikan dari Maria Elizabeth Macías adalah wartawan ke sebelas yang dibunuh di Mexico selama tahun ini, tanpa menghitung korban percobaan peledakan terhadap empat chanel TV. Berdasarkan data dari Komisi HAM, tahun 2005 ada 4 orang wartawan dibunuh; tahun 2006 ada 10 orang; tahun 2007 ada 4 orang; tahun 2008 ada 10 orang, tahun 2009 ada 12 orang.

Menurut Alison Bethel McKenzie, direktur Institut Pers Internasional, yang berkedudukan di Viena, Mexico adalah negara yang paling berbahaya di dunia untuk wartawan. Kemudian diikuti oleh Irak dan Pakistan.

Agresi yang dilakukan terhadap para jurnalis di Mexico membuat presiden Mexico, Felipe Calderón, mengumumkan hari Rabu lalu sebuah rencana untuk melindungi semua profesional yang bekerja di media komunikasi di Mexico. Rencana pemerintah antara lain “memberikan sebuah peringatan dini”. Ketika mendengar rencana yang dibuat Calderón, para jurnalis masih belum merasa aman. Karena untuk menerapkan apa yang secara hukum dibuat oleh pemerintah tidak bisa dipraktekkan dengan begitu gampang dalam kenyataannya. Mereka mengharapkan supaya pemerintah benar-benar melindungi para jurnalis.
Sumber: http://actualidad.rt.com/actualidad/america_latina/issue_30137.html

Bolivia: POLISI BOLIVIA MEMBUBARKAN DENGAN PAKSA KAUM INDIGENAS YANG BERDEMONSTRASI SETELAH PRESIDEN EVO MORALES MEMINTA UNTUK MENGADAKAN REFERENDUM


Polisi Bolivia akhirnya membubarkan ribuan demonstran indígenas dengan gas air mata, yang sudah berdemonstrasi selama 40 hari untuk menolak pembangunan jalan di teritori indígenas di Taman Nasional Isiboro Sécure (TIPNIS). Mereka mengakhiri demonstrasi ini beberapa jam setelah Presiden Evo Morales mengumumkan bahwa dia akan mengadakan referéndum tentang pembangunan jalan tersebut.

Media komunikasi pemerintah Bolivia menyatakan bahwa Polisi menggunakan gas air mata sebagai jawaban atas tuntutan berbagai kelompok indígenas, yang menggunakan panah. Polisi juga mengusir kaum indígenas dari tempat mereka berdemonstrasi dan memblokir tempat demonstrasi.

Mereka yang berpartisipasi dalam demonstrasi tersebut diwajibkan untuk naik ke atas bus untuk kembali ke sebuah perkampungan yang dekat dari tempat mereka berdemo. Sementara para wakil indigenas menyatakan bahwa mereka akan terus melakukan demonstrasi, ketika ketegangan sudah mulai redah. Untuk sementara, Presiden Evo Morales mengumumkan bahwa akan diadakan referéndum tentang konstitusi di daerah-daerah yang dilewati oleh proyek jalan tersebut yakni Cochabamba dan Beni. “Mari kita lakukan konsultasi dengan daerah-daerah tersebut dengan melakukan referéndum. Mereka harus memutuskan: ia atau tidak”, kata Morales.

Demonstrasi ini sudah dipenuhi oleh berbagai polemik, antara lain polemik penangkapan Menlu Bolivia David Choquehuanca oleh para organisator demonstrasi, yang mewajibkannya untuk berpartisipasi dalam demonstrasi tersebut lebih dari satu jam supaya mereka bisa melewati penghalang yang dibuat oleh para polisi.
Sumber: http://actualidad.rt.com/actualidad/america_latina/issue_30133.html

Argentina: TINGKAT PERCERAIAN SUAMI ISTRI DI ARGENTINA MENINGKAT TAJAM


Tingkat perceraian suami-istri di masyarakat Argentina meningkat tajam. Banyak yang menyatakan bahwa ini disebabkan oleh meningkatnya budaya konsumerisme dan juga karena kurangnya bantuan publik untuk menolong pasangan-pasangan yang bermasalah.

Menurut pengacara yang bekerja di bidang perceraian, Viviana Koffman, situasi perceraian ini sering terjadi bagi pasangan yang berusia antara 35-45 tahun. “Orang yang menikah terlambat masa pernikahan mereka kurang bertahan. Rata-rata pernikahan mereka bertahan tidak lebih dari 10 tahun. Umumnya mereka bercerai pada saat anak-anak mereka masih kecil. Dan biasanya perceraian menjadi sebuah konflik yang besar karena akan dibahas juga masalah tentang makanan, kepemilikan dan kunjungan bagi anak”, kata pengacara tersebut.

Di Argentina misalnya, ada 5 pasangan yang bercerai setiap 10 pasang yang menikah, sementara di Cuba 6 pasang akan bercerai dari 10 pasang yang menikah.

Situasi ini juga tidak jauh berbeda dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh pasangan yang beragama katolik, yang beropsi bahwa tidak ada “perceraian”, yang ada hanyalah sebuah pernikahan yang tidak syah atau dianulir, karena ada hal-hal yang kurang dari pernikahan tersebut. Sekarang ini saja, Gereja Argentina menganulasikan satu pernikahan secara Katolik setiap harinya. Situasi ini tiga kali lebih besar dibandingkan tiga dekada lalu.

“Jika dalam sebuah kebudayaan, dalam literatur, dalam novel, film, dan media komunikasi, melihat perceraian, hidup bersama satu, dua, tiga atau empat orang; maka tidak mengherankan kebudayaan ini juga akan terbawa dalam pemikiran semua orang”, kata pemimpin “Pengadilan Gereja”, Uskup José Bonet Alcón.

Banyak ahli juga yang berpendapat bahwa banyak pasangan yang bercerai karena tidak menemukan pertolongan yang baik di masyarakat untuk mengatasi krisis atau saat-saat sulit dalam kehidupan pernikahan mereka. Negara Argentina tidak memberikan pertolongan dalam masalah ini, dan yang menolong pasangan yang bermasalah umumnya dari pihak swasta. Ini adalah salah satu sebab mengapa banyak pasangan yang selesai dengan bercerai, sesuatu yang sudah diijinkan oleh hukum di negara Argentina sejak tahun 1987.

Setelah beberapa tahun menikah, satu pasangan Monica dan Julio Pastori memutuskan untuk berkonsultasi karena menemukan bahwa relasi dalam pernikahan mereka tidak harmonis. “Seoang teman dari Julio menasihatinya supaya, sebelum berpisah mengapa tidak berkonsultasi lebih dahulu. Karena itu mereka mengundang pasangan ini untuk melakukan sebuah pertemuan bagi pasangan suami istri saat akhir pekan. Dan sejak saat itu hidup kami berubah dan pernikahan kami akhirnya selamat”, kata Monica, seorang ibu rumah tangga.

Sementara Julio, seorang pensiunan, mengomentari bahwa dia belajar untuk “membayar” ketidakstabilan dalam dirinya dengan mendengarkan istrinya. “Setelah beberapa saat saya bisa mempraktekkannya: saya mengatakan kepada istri saya “saya mendengar kamu”, “saya mendengarmu dengan hati”, “katakanlah padaku apa yang kamu rasakan””, kata Julio.

Beberapa ahli juga setuju bahwa krisis kehidupan pernikahan disebabkan oleh budaya konsumerisme dari Amerika Serikat, di mana kehidupan pernikahan kurang dihargai. Di Amerika Serikat sendiri setiap 1000 orang ada 7 pasangan yang bercerai.

Jimena Soubeste dan Sebastian Chaumont sudah hidup bersama selama 8 tahun dan memiliki seorang anak berumur 12 tahun. Sebuah contoh di mana pernikahan (bukan hidup bersama / kumpul kebo) bukan merupakan elemen yang wajib atau penting dalam menjaga sebuah relasi yang stabil dalam masyarakat.

“Dulunya kami baik. Kami melewatinya dengan baik. Sekarang ini ini kami merasa bahwa kekuatan cinta tidak seperti dulu lagi”, kata Jimena. Di pihak lain, suaminya berpikir bahwa “menikah dengannya tidak membawa perubahan apa-apa dalam kehidupannya”.

Jimena dan Sebastian juga tidak memiliki rencana untuk menikah di masa depan. Tetapi peraturan di Argentina sudah dimodifikasi dan hidup bersama dilihat sebagai sebuah kesempatan legal untuk bisa hidup sebagai pasangan suami istri tanpa sebuah ikatan.

Krisis institucional dalam kehidupan keluarga merupakan masalah yang kontroversial di Argentina. Sejauh mana negara bisa mengintervensi sebuah relasi yang begitu intim dari sebuah pasangan?
Sumber: http://actualidad.rt.com/actualidad/america_latina/issue_30140.html

Jumat, 23 September 2011

Venezuela: PRESIDEN CHAVEZ MENILAI PIDATO BARACK OBAMA DI PBB PENUH DENGAN NADA SINIS


Presiden Venezuela, Hugo Chavez, yang hari Kamis kemarin kembali dari Cuba setelah selesai dengan sesi keempat dari kemoterapi atas penyakit kanker yang dideritanya, menyatakan bahwa pidato Barack Obama penuh dengan “sinis” dalam Sidang Umum PBB yang ke 66. “Dia mendukung perdamaian? Obama mendukung perdamaian? Nilai moral apa yang dia pegang? Pidato Obama penuh dengan nada sinis”, jelas Chavez.

Selama kehadirannya di PBB, Presiden Barack Obama menyatakan bahwa “perdamaian tidak dapat dicapai melalui resolusi dari PBB”, dia merujuk ke masalah keputusan Otonomi Palestina yang meminta supaya menjadi anggota resmi PBB, dengan tujuan supaya kemerdekaannya diakui oleh semua negara. Sebelumnya Washington sudah memberikan sinyal bahwa dia akan menggunakan hak vetonya di Dewan Keamanan, bila pemimpin Palestina membawa proyek mereka di PBB.

Dia juga menyebutkan bahwa adalah keputusan PBB, yang didukung secara penuh oleh Amerika Serikat, maka dilakukan penyerangan atas Libia, yang direalisasikan oleh koalisi militer internasional dan kemudian dilanjutkan oleh NATO. Tujuan utama resolusi tersebut adalah mempertahankan masyarakat sipil, walaupun ribuan masyarakat sipil menjadi korban dari serangan tersebut.

Selain mengeritik pidato Obama, Presiden Chavez menyatakan dukungannya kepada para presiden di Amerika Latin yang mendukung inisiatif Otonomi Palestina di PBB. “Satu dari tugas yang harus kita mainkan hari ini, dari Venezuela, dari Aliansi Bolivariana adalah menghentikan kegilaan yang mengancam dunia, yang mengancam untuk membumihanguskan planet ini”, kata Chavez.

Sumber http://actualidad.rt.com/actualidad/america_latina/issue_30031.html

Bolivia: MANTAN PRESIDEN BOLIVIA DITUDUH TERLIBAT DALAM MENDUKUNG DEMONSTRASI KAUM INDIGENAS


Pemerintah Bolivia menyatakan bahwa mantan presiden Bolivia Gonzalo Sánchez de Lozada terlibat dalam mendukung demonstrasi kaum indigenas di Amerika Serikat, yang memprotes sebuah proyek pemerintah yang akan melewati dua taman nasional, yang menurut para aktivis bisa merusak lingkungan hidup.

Mantan presiden yang sudah lama berada di Amerika Serikat tersebut, melarikan diri dari pengadilan di Bolivia sejak tahun 2003, yang dituduh menjadi penanggunjawab utama atas sebuah aksi militer dalam sebuah demonstrasi, yang memakan korban 68 orang meninggal dan lebih dari 400 orang terluka.

Seorang Menteri dari Pemerintahan Bolivia, Sacha Llorenti, menyatakan bahwa setelah pulang dari New York, di mana dia hadir dalam sesi Sidang Umum PBB, dia akan memberikan penjelasan yang lebih mendetail tentang bagaimana keterlibatan mantan presiden tersebut, yang dikategorikannya sebagai “sebuah percobaan untuk membuat proses perubahan di Bolivia tidak stabil”.

Sebelumnya La Paz menuduh semua LSM yang mendukung demonstrasi kaum indígenas, dengan tuduhan akan membentuk sebuah partai politik untuk berhadapan dengan Presiden Evo Morales. Menurut pemerintah Bolivia, mereka ini memiliki jaringan dengan Washington.

Sementara di pihak lain, kepala staf redaksi harian “La Razón” Bolivia, Patricia Cusicanqui, menunjukkan bahwa ada interés politik dibelakang mobilisasi kaum indígenas. Dia menyakini bahwa “ tuntutan yang mereka tuduhkan kepada kaum indígenas adalah peristiwa di mana saat berhadapan dengan Komisi Internasional HAM, yang dilakukan di Washington, dalam sebuah jamuan makan munculnya mantan Duta Besar dan Mantan Menteri Luar Negeri saat pemerintahan Sánchez de Lozada yakni Jaime Aparicio. Kejadian inilah yang digunakan oleh pemerintahan Evo Morales sebagai bukti keterlibatannya dalam demonstrasi ini.

Sumber: http://actualidad.rt.com/actualidad/america_latina/issue_30027.html

Kamis, 22 September 2011

Brasil : SALIB DAN IKON BUNDA MARIA DARI PERTEMUAN PEMUDA SEDUNIA SUDAH TIBA DI BRASIL


Mgr. Lorenzo Baldisseri, Nuncio Apostolik Brasil mengungkapkan kegembiraannya karena Salib Pertemuan Pemuda Sedunia sudah tiba di Brasil hari Minggu lalu. Dia juga menyatakan bahwa Paus Benedictus XVI menghendaki supaya Muda-Mudi Katolik Brasil memikulnya dan membawanya ke Chile, Argentina, Uruguay dan Paraguay; ke semua negara Cono Sur di Amerika Selatan.

“Paus merekomendasikan kepada kalian anak muda, misi yang sangat penting ini, untuk menjadi protagonis peziarahan ini untuk membawa Salib dan Icon Bunda Kita ke seluruh Brasil dan Cono Sur. Karena itu, berpeganglah dengan Salib ini dan hiduplah dengan gembira serta berjuanglah untuk mencapai kebahagiaan”, katanya.

Dia menegaskan bahwa Salib adalah lambang Kristus dan hanya Tuhan yang “bisa memberikan kita semangat baru menuju kebahagiaan dalam misi, karena Dialah yang mendukung dan memberikan kesaksian iman kepada kita”.

Sementara itu Kepala Konferensi Nasional Para Uskup Brasil, Cardenal Raymundo Damasceno, mengucapkan terima kasih kepada Paus Benedictus XVI, karena sudah memilih negara di Amerika Selatan ini sebagai tempat Pertemuan Pemuda Sedunia tahun 2013. Dia juga mengatakan bahwa Salib dan Ikon Bunda Maria adalah lambang-lambang yang mewakili semangat para pemuda.

Dia menyatakan bahwa “sampai tahun 2013 kita akan menghidupkan dengan lebih baik semangat evangelisasi, saat-saat penting untuk melibatkan kembali anak-anak muda dalam kehidupan Gereja, untuk mewartakan patrimoni iman bagi generasi baru”.

“Supaya Pemuda-Pemudi Maria memberikan kita semangat untuk bertekun dan berjuang dalam mengikuti Yesus Kristus. Kaum muda semuanya adalah harapan Brasil, penerus masa depan”, tambahnya.

Salib dan Ikon Bunda Maria akan diarak di seluruh Brasil dan juga akan diarak ke negara-negara Cono Sur, sampai pada awal Jornada Mundial Jóvenes tahun 2013. Sampai tanggal 31 November 2012 akan diarak di seluruh diosis di Brasil. Dari tanggal 1 sampai 31 Desember 2012 akan diarak di ibu kota negara-negara di Cono Sur.

Sumber: http://www.aciprensa.com/noticia.php?n=34760

Selasa, 20 September 2011

OPERASI "PEMBERSIHAN" ALA DILMA ROUSSEFF


Dilma Rousseff menjadi Presiden Brasil karena mendapat dukungan kuat dari Lula da Silva. Tidak mengherankan bahwa banyak analis politik melihat Dilma Rousseff sebagai perpanjangan tangan politik Lula. Hal itu tampak sekali ketika Dilma memilih para menteri kabinet yang kebanyakan adalah pegawai pemerintahan Lula.

Namun demikian, pemikiran bahwa Dilma adalah perpanjangan tangan Lula tidak semuanya benar. Pemerintahan Lula da Silva yang memiliki kelemahan dalam “memberantas korupsi” dalam tubuh kabinetnya dilihat oleh Dilma Rousseff sebagai penghalang bagi pemerintahannya. Tidak mengherankan dalam tujuh bulan memimpin Brasil dia sudah “membersihkan” kabinet dan pemerintahannya dari para koruptor dan pegawai yang tidak loyal kepada Presiden. Empat menteri dan puluhan pegawai pemerintahan dalam posisi penting di pemerintah sudah dipecat dan diganti.

Dalam tujuh bulan pemerintahannya Dilma sudah memecat empat menteri: Menteri Kepala Kabinet, Antonio Palocci; Menteri Transportasi, Antonio Nascimiento; Menteri Pertanian, Wagner Rossi; dan Menteri Pertahanan, Nelson Jobim. Antonio Palocci dipecat karena laporan korupsi yang ditulis oleh sebuah surat kabar, setelah ditemukan bahwa harta kekayaan pribadinya meningkat tajam. Antonio Nascimento bersama 20 pegawai di Kementerian Transportasi dipecat karena terlibat dalam mark up proyek jalan raya di Brasil. Wagner Rossi, yang menarik diri dari Menteri, karena ketahuan menerima suap dan menerima penerbangan gratis dari beberapa perusahaan pertanian. Dilma sendiri melihat bahwa masalah ini terjadi karena “ketidaktahuan” Menteri Pertanian. Karena itu Dilma tidak mau memecatnya, tetapi Wagner Rossi mengundurkan diri karena kemauannya sendiri. Sementara Nelson Jobim, mengundurkan diri dari Kabinet Dilma karena masalah politik di mana Dilma Rousseff membentuk Komisi Kebenaran, yang menginvestigasi semua kekerasan terhadap hak asasi manusia oleh partai politik dan militer sejak tahun 1964-1985. Nelson Jobim yang seorang militer tidak mendukung pembentukan Komisi Kebenaran ini. Dalam beberapa bulan terakhir, Jobim menyatakan bahwa dirinya bukanlah pendukung Dilma Rousseff sebagai Presiden Brasil. Mengherankan bahwa pernyataan itu diucapkannya setelah dirinya menjadi menteri. Polemik ini membuat dirinya menarik diri dari jabatan sebagai Menteri Pertahanan.

Politik “pembersihan” Dilma Rousseff ini mendapat dukungan dari berbagai pihak di Brasil. Tidak mengherankan popularitasnya meningkat. Sementara Dilma sendiri menyatakan bahwa politik yang diambilnya bukan politik “pembersihan”, melainkan sebuah “renovasi demi efisiensi” dalam pemerintahannya. Sudah jelas bahwa politik yang diambilnya ini menciptakan “ketegangan” dalam tubuh Partai Pekerja (Partainya Dilma) dan partai-partai lain yang berafiliasi dengannya. Sementara Dilma Rousseff menekankan “sebuah relasi yang dewasa” dengan partai-partai lain, tanpa tekanan dan kemaunnya untuk membentuk sebuah pemerintahan yang bersih dan efisien merupakan tuntutan mendasar dalam membangun Brasil.

Aksi “pembersihan” Dilma Rousseff menimbulkan pertanyaan yang besar juga bagi pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dari luar negeri, pemerintahan SBY didera oleh beberapa kasus politik yang belum terselesaikan. Dan masalah yang paling krusial adalah masalah korupsi baik dalam partainya sendiri maupun dalam pemerintahannya. (Selain itu ada juga masalah hak asasi manusia (belum tuntasnya “kasus kematian Munir”); dan masalah opsi terhadap kaum miskin yang belum mendapat “proyek pembangunan”).

Dalam kasus korupsi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sangat berhati-hati dengan menjunjung tinggi asas “praduga tak bersalah”, sehingga terkesan bahwa para koruptor “dilindungi”. Kasus korupsi dalam tubuh Partai Demokrat dan kabinetnya, yang sampai sekarang masih menjadi berita nasional dari Indonesia sebenarnya sudah berada pada tingkat “merusak efektivitas dan efisiensi” kerja pemerintahan. Mengherankan bahwa belum ada “tindakan yang diambil” dari pihak Presiden untuk mengatasi masalah ini. Sampai sekarang belum ada penyelesaian yang jelas atas beberapa kasus korupsi: kasus Bank Century, Kasus Pembangunan Wisma Atlet, Kasus Menteri Tenaga Kerja dan masih banyak kasus korupsi lainnya. Di banyak negara, pegawai pemerintahan yang “terlibat” dalam kasus korupsi, langsung dinonaktifkan dan diganti. Bahkan mentalitas “malu” karena “terlibat” (belum sampai “terbukti”) korupsi membuat beberapa pegawai pemerintah “menarik diri” dari jabatannya. Masalah korupsi di Indonesia sudah berada pada tingkat “endemic” dan memiliki dampat negatif yang mahadasyat bagi Indonesia ke depan. Dilma Rousseff di Brasil berani mengambil jalan “pembersihan” karena dia dipilih oleh rakyat dan bukan oleh partai politik saja. Mandat dari rakyat inilah yang menguatkannya. Tidak mengherankan setelah “membersihkan” kabinet dan pemerintahannya, popularitas Dilma meningkat tajam. Bagaimana dengan Presiden Susilo?

Senin, 19 September 2011

ALFABETISASI DAN MASYARAKAT INDIGENAS


Pada tanggal 8 September 2011, UNESCO mempublikasikan bahwa masih ada 793 juta orang di dunia yang belum bisa membaca / belum melek huruf. Padahal hak untuk “melek huruf” merupakan “hak asasi manusia” dan merupakan basis dasar untuk bisa berpartisipasi dalam pembangunan. Jika kita melihat data tersebut 75% orang buta huruf di dunia berada di Asia Selatan dan Afrika. Secara kuantitatif Amerika Latin jauh lebih baik bila dibandingkan dengan Afrika dan Asia Selatan.

Hampir semua negara di Amerika Latin memiliki angka melek huruf antara 80-96%, sebuah prosentasi yang cukup menggembirakan. Kecuali beberapa negara tertentu misalnya Guatemala di mana hampir 25% penduduknya (kurang lebih sebanyak lebih dari 14 juta orang) yang masih buta huruf. Demikian juga di Nicaragua dan Haiti.

Namun demikian, jika kita melihat lebih jauh tentang buta huruf bagi suku-suku minoritas seperti orang indígenas, data-data di Amerika Latin akan menunjukkan hasil yang berbeda. Masih banyak suku, masyarakat atau kampung yang belum terjangkau dengan sekolah. Pergi ke sekolah merupakan hal yang mewah buat mereka. Banyak petani, orang cacat, indígenas, khususnya perempuan, yang belum bisa mengenyam pendidikan untuk membaca. Data di Amerika Latin menunjukkan bahwa begitu banyak perempuan indígenas yang tidak beruntung untuk mendapat pendidikan. Masalah yang paling besar dan mencemaskan adalah, mereka sendiri tidak bisa menulis atau membaca dengan bahasa ibu mereka sendiri.

Di Mexico misalnya jumlah perempuan indígenas yang bisa menulis dan membaca dalam bahasa ibu mereka 15 kali lebih sedikit daripada perempuan yang berbicara spanyol. Situasi inilah yang membuat mereka masih berkubang dalam kemiskinan. Buta huruf tidak hanya membuat orang jatuh miskin tetapi juga menghalangi orang untuk bebas dari situasi kemiskinan.

Masyarakat indigenas Amerika Latin menderita dalam berbagai aspek. Hal ini sangat banyak disebabkan oleh kurangnya perhatian pemerintah atas situasi mereka (tidak adanya wakil masyarakat indigenas di pemerintah), rasisme, jarangnya bantuan buat mereka karena bukan merupakan “mayoritas”, dan bahasa mereka tidak pernah diperhatikan karena memiliki “nilai kurang” dalam kekuatan ekonomi atau politik. Dari hasil informasi UNESCO tersebut tampak sekali kecemasan akan “musnahnya” bahasa masyarakat indigenas seiring dengan terancamnya budaya dan lingkungan hidup di mana mereka tinggal. Hal yang sulit dimengerti oleh masyarakat indigenas sendiri adalah, bahasa mereka diganti oleh bahasa lain yang umumnya diganti oleh Bahasa Spanyol dari sekolah dan pemerintah. Bahasa ibu mereka yang tidak dipakai, membuat mereka sulit mengerti tentang tradisi, kosmovision, dan nilai-nilai budaya asal mereka. Budaya bahwa mereka “kelompok kelas dua” kalau berbicara bahasa asli (ibu) mereka diajarkan di sekolah-sekolah; sehingga anak-anak indigenas melihat kebudayaan mereka sendiri sebagai “kelas dua” atau “tidak penting”.

Melihat situasi ini, sudah sangat penting bahwa pendidikan abad XXI harus dibangun dari “realitas lokal”, dengan menyadari “kekayaan budaya” yang mereka miliki, menghormati bahasa ibu mereka, mengembangkan budaya mereka sendiri, serta membuka cakrawala mereka dalam sebuah dialog dengan dunia luar. Karena itu standarisai pendidikan nasional di setiap negara, yang lebih merespons dunia industri dan teknologi aktual sebenarnya hanya membuat masyarakat indigenas teralienasikan dari situasi mereka.

Tidak mengherankan kalau UNESCO tahun ini memberikan penghargaan kepada Insititut Nasional Untuk Pendidikan Orang Dewasa Mexico (INEA =Instituto Nacional Para La Educación de los Adultos de México) karena program pendidikan yang mereka buat “program alfabetisasi bilingual”. Program ini telah membantu banyak perempuan indígenas mengerti akan nilai-nilai kebudayaan mereka sendiri. Di Mexico sendiri ada sembilan Universitas yang menggunakan dua bahasa di sekolah mereka. Sebuah cara untuk mengangkat kembali bahasa-bahasa lokal yang sudah semakin hilang dan mengubah mentalitas masyarakat bahwa kebudayaan mereka sangat berharga.

Sumber :
http://www.unesco.org/new/es/media-services/single-view/news/8_september_international_literacy_day_793_million_adults_can_neither_read_nor_write/
http://www.inea.gob.mx/boletines/admin/view/detalleBoletines_sp_23_2.php?id_boletin=277
Bokova, Irina (2011) Mensaje de la Directora General de la UNESCO con motivo del Día Internacional de la Alfabetización. 8 de septiembre del 2011. nesdoc.unesco.org/images/0021/002113/211358s.pdf

Kamis, 15 September 2011

CUBA: CUBA MENUNTUT PENCABUTAN EMBARGO EKONOMI AMERIKA SERIKAT


Cuba menuntut Amerika Serikat supaya mencabut embargo ekonomi mereka atas Cuba yang sudah berjalan hampir 50 tahun. Tuntutan itu disampaikan sebagai reaksi atas pidato Obama yang akan meneruskan embargo ekonomi mereka ke Cuba. Tidak hanya itu mereka juga menuntut supaya devisa yang dikirim ke Cuba dan penerbangan wisatawan ke Cuba tidak dibatasi oleh pemerintah Amerika Serikat.

Wakil menteri luar negeri Cuba menunjukkan dampak embargo tersebut terhadap situasi ekonomi Cuba. Dalam sebuah dokumen yang ditunjukkannya, dia wakil menlu Cuba menyatakan bahwa selama hampir 50 tahun embargo Amerika Serikat, Cuba mengalami kerugian hampir 2 trilliun dólar Amerika Serikat. Embargo itu sendiri menjadi penghalang utama bagi perkembangan perekonomian Cuba. Pemerintah Cuba akan menunjukkan semua data tersebut dalam sidang Dewan General PBB akhir Oktober nanti.

Sementara itu, wakil direktur Institut Amerika Latina, Boris Martynov, menyatakan bahwa embargo ini adalah dampak dari politik luar negeri Amerika Serikat yang ingin menempatkan hukum atau peraturan mereka di negara lain.


Sumber: http://actualidad.rt.com/actualidad/america_latina/issue_29674.html

Rabu, 14 September 2011

Analisis: SITUASI EKONOMI AMERIKA LATIN



Peristiwa 11 September 2001, sadar atau tidak, membawa angin perubahan dalam politik global. Angin perubahan itu, sangat dirasakan di Amerika Latin. Ketika terjadi serangan teroris pada tanggal 11 September 2011, abad XXI diprediksikan menjadi abad di mana hegemoni Amerika Serikat akan berjaya, setelah selesainya perang dingin. Namun sekarang ini, satu dekada setelahnya, kita melihat bahwa China mulai menunjukkan eksistensinya. Dengan begitu cepat China menjadi salah satu negara yang memiliki kekuatan ekonomi kedua di dunia, yang menurut penelitian banyak ahli akan menjadi nomor satu setelah sepuluh tahun ke depan. Brasil, India, Rusia, Turki dan Afrika Selatan (Indonesia) juga berkembang menjadi sebuah kekuatan ekonomi baru. Negara-negara ini mengalami krisis ekonomi tahun 2008. Tetapi mereka bisa mengatasinya dan dalam jangka panjang akan menjadi kekuatan ekonomi baru di dunia. Sementara Amerika Serikat dan Uni Eropa masih didera oleh krisis, apalagi Amerika Serikat harus menghabiskan begitu banyak dana untuk membiayai perang di Afganistan, Irak dan perang melawan terorisme lainnya.

Tidak mengherankan juga bahwa di Amerika Latin terjadi perubahan yang signifikan dalam bidang politik. Pemerintahan dari golongan tengah-kiri mulai mendominasi pemerintahan di Amerika Selatan. Banyak orang yang merasa terganggu dengan hasil ini, tetapi itulah hasil demokrasi yang dijalankan di beberapa negara. Integrasi Amerika Selatan dalam kelompok UNASUR juga mengalami perubahan dalam model integrasi yang akan diterapkan. Dalam model sebelumnya UNASUR lebih pada integrasi “klub presiden” Amerika Selatan; tetapi sekarang ini mereka lebih kerkecimpung dalam politik publik, khususnya bagaimana mempertahankan politik keamanan dan makroekonomi bagi negaranya masing-masing maupun bagi kawasan Amerika Selatan.

Aktor utama yang sudah menunjukkan perannya di Amerika Latin adalah China. China telah meningkatkan relasi kerjasama perdagangan dan ekonomi dengan Amerika Latin beberapa tahun terakhir, khususnya dalam hal materi prima. Relasi perdagangan ini memberikan dampak yang kuat bagi Amerika Latin. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya perkembangan ekonomi Amerika Latin menjadi 6%. Sudah jelas bahwa peran Brasil juga di wilayah ini tidak dapat dibantah. Tetapi kekuatan Brasil tidak sebesar yang dilakukan oleh China, mungkin karena Brasil tidak menunjukkan dengan jelas kemauan Brasil untuk melakukannya, terutama dengan biaya yang harus ditanggungnya dalam proses itu.

Masalah utama yang dihadapi Amerika Latin adalah tidak menempatkan dirinya sebagai “satu” kekuatan dalam skenario global ini. Amerika Latin belum bisa menjadi protagonis dalam dirinya sendiri dan tidak hanya menjadi “tukang eskpor bahan baku dasar”. Menurut laporan ekonomi ISS tahun 2010, dinyatakan bahwa lebih dari 90% dari total investasi di Amerika Latin semuanya ditujukan pada sumber daya alam prima. Keadaan ini menjadi sebuah kecemasan besar bagi Amerika Latin, bila sebelumnya Amerika Latin sangat bergantung pada Amerika Serikat, sekarang sangat bergantung pada kebutuhan bahan baku prima dari China, maka Amerika Latin sebenarnya menjalankan peran yang sama: bergantung pada negara lain. Kalau Amerika Latin mau berubah maka mereka harus memberikan nilai tambah pada bahan baku prima yang mereka ekspor. Harus mulai dari sekarang, bersatu dan mulai menjadi protagonis dalam skenario global yang sedang berkembang. Yang paling didambakan adalah Amerika Latin tidak bergantung dari satu negara ke negara lain lewat perjanjian-perjanjian bilateral atau perdagangan bebas yang ada; melainkan berusaha menjadi aktor dengan menentukan sikap dalam praksis politik yang bisa membangun Amerika Latin di Amerika Latin.

Venezuela: PEMILIHAN UMUM PRESIDEN AKAN JATUH PADA TANGGAL 7 OKTOBER 2012


Komisi Pemilihan Umum Nasional (Consejo Nacional Electoral) Venezuela menyatakan bahwa pemilihan umum presiden Venezuela akan dilangsungkan pada tanggal 7 Oktober 2012. Pemilihan ini akan memilih presiden yang akan berkuasa dari tahun 2013 sampai 2019. Tibisay Lucen, Ketua KPU Venezuela, mengatakan, “Kami memutuskan bahwa tanggal pemilihan umum presiden adalah 7 Oktober 2012”.

Presiden Venezuela, Hugo Chavez, yang telah memimpin negara ini sejak tahun 1999, telah menyatakan keinginannya untuk ikut dalam pemilihan presiden yang ketiga bagi dirinya tahun depan. Lebih lagi, dia menyatakan kepastian bahwa dirinya akan menang dalam pemilihan presiden tahun 2012. Dia menulis dalam jaringan sosial Twitter, “7 Oktober 2012; nasibmu sudah tertulis. Kami akan menulis kemenangan revolusi yang baru di halamanmu! Kita akan hidup dan menang!!!.

“Proyek sosialis akan berjalan terus di Venezuela, semuanya itu untuk sebuah dunia yang baru. Siapa yang akan memilih untuk kami, dan itu saya yakin lebih dari 60%, akan memilih untuk jiwa nasional, badan nasional dan harus dibuktikan, kata Simon Bolivar dulu. Persatuan nasional, persatuan sesungguhnya, persatuan jiwa, badan dan roh nasional”, kata Hugo Chavez kepada sejumlah media massa.

Berdasarkan beberapa hasil jajak pendapat belakangan ini, Presiden Chavez mengalami moment-moment yang baik akan popularitasnya. Sejak Juni lalu, dia mengatasi penyakit kankernya. Dan harus menjalankan pengobatan kemoterapi yang keempat pada bulan Oktober nanti.

Sumber berita: http://actualidad.rt.com/actualidad/america_latina/issue_29621.html

Mexico: MEREKA MENGGANTUNG TUBUH KEDUA KORBAN DI JEMBATAN LAYANG


Kekejaman narkotrafik di Mexico memang tidak mengenal peri kemanusiaan. Hal itu nampak dari perlakuan mereka terhadap dua orang anak muda yang dibunuh, kemudian digantung di jembatan layang di kota Nuevo Laredo, negara bagian Tamaulipas. Kedua anak muda ini dibunuh karena menggunakan jaringan red sosial (internet) untuk menyebarkan info kriminalitas narkotrafik.
Mobil-mobil yang berlalulalang di jalan raya di bawah jembatan layang ini kaget, sekaligus takut karena melihat dua tubuh, seorang lelaki dan seorang perempuan, tergantung di jembatan layang. Di pundak kedua korban tergantung pesan bagi mereka yang menggunakan jaringan red sosial internet untuk melaporkan narkotrafik dari kelompok-kelompok kejahatan yang terorganisir.
“Kejadian yang sama ini akan terjadi bagi mereka yang menggunakan internet. Lihatlah ini dan nanti saya akan memotong kamu seperti ini. Perhatian. Z”, kata pesan tersebut. Z adalah singkatan dari sebuah kelompok kartel Los Zetas yang beroperasi di kota ini, yang berbatasan dengan Amerika Serikat sejak tahun 2007. Para saksi mata mengindikasikan bahwa kedua anak muda tersebut mengalami penyiksaan. Sampai sekarang pemerintah dan polisi belum memberikan pernyataan tentang kejadian tersebut.


Sumber: http://actualidad.rt.com/actualidad/america_latina/issue_29655.html

Jumat, 09 September 2011

Guatemala: MENJELANG PEMILIHAN UMUM TANGGAL 11 SEPTEMBER NANTI


Tanggal 11 September 2011, 28 partai politik dengan 10 calon presiden ( 3 di antaranya perempuan) akan bertarung dalam pemilihan umum di Guatemala. Dalam pemilihan ini juga akan diperebutkan 158 wakil rakyat di tingkat nasional dan 20 wakil rakyat untuk Parlemen Amerika Tengah serta 333 pemerintah daerah. Mereka akan memperebutkan 7.300.000 suara dari total 14 juta penduduk Guatemala.
Jika mengikuti hasil jajak pendapat yang dilakukan akhir Agustus lalu, maka mantan Jenderal Otto Pérez Molina bisa menang dengan mudah. Namun dia tidak bisa menang dalam putaran pertama karena dia hanya mengantongi 40-45% suara. Putaran kedua yang akan dilakukan pada tanggal 6 November, menurut penelitian para ahli politik, adalah benar-benar kompetisi yang ketat untuk menentukan siapa yang akan memimpin Guatemala ke depan.
Calon presiden yang lain: Manuel Baldizón, juga dari golongan kanan, mendapat dukungan sebesar 18.5% dan Eduardo Suger, juga dari golongan kanan, dengan 11% suara. Sementara Rigoberta Menchú, yang pernah mendapat Hadiah Nobel Perdamaian, yang didukung oleh para gerilyawan dan partai indígena Winaq, hanya mendapat kurang dari 3% suara dalam jajak pendapat tersebut. Di sebuah negara di mana 70% penduduknya adalah indígenas, sebagian besar indígenas merasa tidak terwakilkan dalam organisasi politik untuk pemilihan umum nanti.
Masalah kejahatan sosial merupakan masalah yang paling besar di Guatemala. Antara 15-20 orang meninggal setiap harinya di Guatemala karena kejahatan sosial. Calon presiden dari golongan ultra-kanan menggunakan kesempatan ini untuk melancarkan politik yang menghapus kekerasan sosial di Guatemala. “Pemerintahan saya akan berjalan dengan “tangan besi”; saya akan menghancurkan semua kejahatan terorganisir yang ada dengan Angkatan Bersenjata…akan diciptakan strategi militer untuk menghapuskan kejahatan dari akar-akarnya”, kata Otto Pérez Molina.
Berhadapan dengan pernyataan-pernyataannya ini, banyak orang takut Guatemala akan jatuh dalam kediktatoran dan “tangan besi”. Namun banyak juga yang berpendapat bahwa Guatemala memiliki dua masalah mendasar yakni persediaan makanan dan aksi kejahatan terhadap para pejuang hak asasi manusia.
Beberapa organisasi internasional seperti Vía Campesina, FIAN (organisasi internasional yang bergerak dalam bidang hak untuk mendapatkan makanan) CIDSE (Organisasi Katolik untuk Pembangunan), CIFCA (Inisiatif Kopenhagen untuk Amerika Tengah dan México) dan APRODEV (Persatuan Dewan Gereja Dunia) menyatakan kecemasan mereka atas krisis makanan yang terus melanda Guatemala dan kriminalitas terhadap para pejuang hak asasi manusia; khususnya mereka yang mempertahankan hak ekonomi, sosial, kebudayaan dan perempuan. Mereka memberikan 15 rekomendasi bagi pemerintahan yang baru nanti, yang antara lain meminta supaya berjuang untuk mengembangkan pembangunan daerah pedesaan, supaya masyarakat memiliki makanan yang cukup. Perekonomian Guatemala yang dipegang oleh perusahaan-perusahaan transnasional membawa hasil bumi Guatemala ke seluruh Amerika Tengah. Sementara penduduk indígenas yang tinggal di daerah pedesaan tidak memiliki banyak kesempatan untuk mengembangkan pertanian mereka, karena sebagian besar tanah pertanian yang baik berada di tangan pengusaha-pengusaha asing.
http://www.alainet.org/active/49108

Analisis : PETA POLITIK ENERGI AMERIKA SELATAN


Masalah energi merupakan masalah besar di Amerika Selatan. Perdebatan energi akhir-akhir ini terjadi antara beberapa negara, misalnya Paraguay yang mulai mengekspor energi ke Uruguay diprotes oleh Argentina. Bolivia mengalami kesulitan untuk memenuhi janji ekspor energi (gas) ke Brasil dan Argentina. Demikian juga Argentina tidak memenuhi janji energinya ke Chile. Dan yang sudah lama terjadi adalah perjuangan Paraguay untuk mendapat harga yang lebih tinggi dari energi yang mereka kirimkan ke Brazil dan Argentina.

Paraguay adalah satu-satunya negara di Amerika Selatan yang memiliki energi listrik yang lebih. Energi listrik yang mereka miliki berasal dari listrik tenaga air di Itaipú yang sebagiannya diekspor ke Brasil, dan Yacycretá yang diekspor ke Argentina. Sejak Fernando Lugo menjadi Presiden Paraguay, dia berjuang untuk mendapat harga yang lebih baik dari kelebihan energi yang mereka miliki. Lugo berusaha untuk membebaskan dirinya dari tekanan bahwa energi listrik yang berlebihan yang dimiliki oleh Paraguay harus dijual, karena itu harganya ditentukan oleh pembeli.

Dalam kasus Itaipú misalnya, tahun-tahun sebelumnya Paraguay menerima US$ 100 juta dólar setiap tahun dari energi lebih yang dijual ke Brasil. Tetapi pemerintah Paraguay menaksir bahwa negara Paraguay seharusnya menerima 10 kali lebih besar, jika harga energi listrik tersebut sesuai dengan harga pasar. Karena itu melalui perundingan yang sangat alot, tahun 2009, akhirnya Brasil meningkatkan tarif listrik yang datang dari Itaipú, sehingga sekarang ini Paraguay mendapat pemasukan dari energi listrik yang dijualnya tiga kali lipat yakni sebanyak US$ 360 juta setiap tahunnya.

Sementarai perusahaan listrik tenaga air dari Yacycretá , 98% energi listriknya dikirim ke Argentina. Sama seperti kasus Itaipú, pemerintahan Fernando Lugo menaksir bahwa pemerintahan Argentina harus membayar beberapa kali lipat kalau mengikuti harga pasar. Ditambah lagi, kedua negara berperkara karena adanya kemungkinan untuk menjual energi listrik yang berlebihan dari Yacycretá ke pihak ketiga. Paraguay sedang melakukan negosiasi dengan Uruguay untuk menjual energi listriknya yang berlebihan, yang berasal dari Yacycretá atau dari salah satu perusahaan listrik tenaga air lainnya di Paraguay. Masalahnya energi listrik yang harus dikirim ke Uruguay tersebut harus melewati teritori Argentina dan pemerintahan Argentina sampai sekarang belum menyetujui kemungkinan ini.

Ricardo Canese, Koordinator Komisi Badan Binasional Hidroelektrik, dalam sebuah deklarasi publik di Surat Kabar La Nación menyatakan, “Dalam opini saya, berdasarkan Tratado de Asunción (Perjanjian Asunción), yang mana Argentina tidak bisa menghalangi baik secara terbuka maupun tertutup segala sesuatu yang menghalangi aliran barang atau pelayanan ke mana pun”. Canese menekankan bahwa Presiden Cristina Fernéndez, bulan Desember 2008 telah berjanji untuk memberikan ijin bagi energi Paraguay untuk dialirkan ke Chile dan Uruguay. Tetapi sekarang mereka menghalanginya. Direktur energi, Ramón Méndez, menekankan hal yang sama. Paraguay ingin menjual energinya lebih jauh daripada sekedar ke Argentina. Sementara Argentina berkeinginan supaya energi Paragua hanya dijual ke Argentina yang dijual ke Argentina, dan kemudian Argentina yang menjualnya ke negara-negara lain. Kemauan Argentina ini ditolak oleh Paraguay karena berseberangan dengan kesepakatan tentang “kebebasan transportasi” bagi negara-negara yang bergabung dalam MERCOSUR.

Dalam bidang energi listrik dari gas alam, Argentina sangat cemas, karena Bolivia tidak bisa memenuhi janji yang dibuat Bolivia dengan Argentina, untuk memberikan 27.7 juta meter kubik gas setiap harinya, sejak tahun 2010. Bolivia memproduksi antarai 38-43 juta meter kubik per hari, yang mana 30 jutanya dikirim ke Brasil dan 7 jutanya digunakan untuk kepentingan dalam negeri. Sementara Argentina selama ini hanya menerima 2-7 juta meter kubik per hari, jauh dari yang diharapkan apabila dibandingkan dengan konsumsi harian Argentina sebanyak 144 juta meter kubik per hari.
Masalah dengan Bolivia ini memiliki dampak lebih lanjut, yakni masalah antara Argentina dan Chile. Tahun 1996-1999 Chile membangun 7 stasiun gas yang diimpor dari Argentina. Argentina saat itu mengekspor 25 juta meter kubik per hari ke Chile. Sejak tahun 2004, Argentina mulai mengalami krisis gas. Untuk konsumsi dalam negeri saja Argentina tidak bisa mengembangkan industri gasnya. Karena itu mereka mengharapkan dukungan Bolivia yang sampai sekarang belum bisa memenuhi tuntutan kebutuhan Argentina. Sementara Chile, untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, akhirnya harus membangun stasiun gas khusus, di Quinterio dan Mejillones, yang menggunakan gas liquid impor sebagai sumber utama energi.

Brasil juga sudah mengambil langkah-langkah penting sejak terjadi nasionalisasi gas yang di Bolivia, yang diprakarsai oleh Evo Morales. Brasil mengharapkan supaya Bolivia tetap mengirim 30 juta meter kubik perhari ke Brasil. Namun mereka memiliki rencana untuk memiliki sumber energi mereka sendiri atau seperti yang dilakukan Chile mengimpor gas liquid ke Brasil. Jika sebelum tahun 2006, Brasil bergantung pada Bolivia untuk 40% energi listrik dalam negerinya, maka pada tahun 2012 mereka sudah berusaha untuk menurunkan ketergantungan mereka menjadi hanya 22%.
Situasi di atas menunjukkan bahwa integrasi energi Amerika Selatan sedang berubah. Pada dekada 1980-an dan 1990-an integrasi energi bergerak dalam koridor pasar bebas yang mendukung perkembangan industri melalui perusahaan swasta atau negara. Memasuki abad XXI, negara-negara Amerika Selatan telah memulai sebuah proses untuk mengontrol energi yang ada. Sebelumnya, ide interkoneksi internasional dengan akses bebas terhadap kantong-kantong sumber-sumber energi berfungsi dengan baik karena didukung oleh pasar bebas. Sekarang ini berhadapan dengan pemerintah yang lebih memperhatikan politik energi di setiap negara, maka integrasi energi membutuhkan sebuah koordinasi politik lintas negara.

Dewan Energi Amerika Selatan yang dibentuk tahun 2008 dan Perjanjian Energi Amerika Selatan (walaupun masih sedang digodok), adalah beberapa langkah penting untuk mencapai integrasi energi di Amerika Selatan. Kontroversi antar negara, seperti yang sudah ditunjukkan di atas, menjadi dasar yang kuat untuk mencari sebuah platform politik energi yang baru bagi Amerika Selatan.

Rabu, 07 September 2011

MENELUSURI CUSCO, URUBAMBA DAN MACHU PICCHU

Tepat jam 10.00 AM pesawat kami mendarat di kota tua Cusco. Perjalanan selama satu seperempat jam dari Lima ibukota Peru tidak terasa setelah menikmati indahnya Peru dari udara. Kedinginan cuaca Cusco menyambut kami sehingga kami harus menggunakan jaket berlapis. Cusco adalah kota tua Inca, yang dulunya adalah pusat kebudayaan bangsa Inca. [caption id="attachment_129" align="alignleft" width="300" caption="Katedral Cusco di malam hari"][/caption]
Minum Daun Coca
Kota Cusco terletak 3.400 meter di atas permukaan laut. Karena ketinggiannya maka konsentrasi oksigen agak berkurang. Tidak mengherankan kalau para turis di sini mengalami sakit kepala atau perut kembung karena efek samping ketinggian. Letak Cusco yang tinggi membuat para turis harus bersiap diri untuk menghadapi efek samping ketinggian ini.
Namun demikian orang-orang Inca memiliki obat yang mujarab untuk ketinggian. Yakni daun Coca (bahan dasar buat cocain). Daun coca di Cusco dijual bebas seperti permen. Bahkan di Peru sendiri ada teh yang bernama Teh Uña de Gato yang terbuat dari daun coca. Ketika kami tiba di hotel di mana kami menginap, mereka menyarankan kami supaya beristirahat 2 sampai 3 jam sambil minum teh daun coca atau makan daun coca. Ternyata daun coca adalah obat ketinggian dan memperlancar pencernaan sehingga orang tidak pusing bila berada di ketinggian. Orang-orang Inca mengkonsumsi daun coca setiap hari sehingga mereka tidak memiliki masalah dengan ketinggian. Teh daun coca ini membuat kami bertahan untuk menelusuri indahnya Cusco sore dan malam hari.
Kerajaan Inca: Cusco
Setelah makan siang kami dijemput oleh tour guide kami untuk menelusuri kota Cusco. Cusco adalah kota tua pusat kebudayaan Inca zaman dulu. Kami diantar menuju pusat kota yang biasanya dalam dunia hispanik (yang berbahasa Spanyol) disebut Plaza de Armas (pusat kota). Di pusat kota kami menyaksikan megahnya Katedral Cusco. Sebelum disulap menjadi katedral, tempat ini pada zaman Inca adalah Istana Viracocha Inca. Katedral ini dibangun tahun 1539. Orang-orang Inca sangat terkenal dengan perhiasan mereka yang terbuat dari emas. Sisa-sisa emas mereka masih bisa terlihat dalam perhiasan-perhiasan dalam katedral ini. [caption id="attachment_120" align="alignright" width="240" caption="Kota Cusco dalam bentuk Puma"][/caption]

Yang unik dari Katedral Cusco adalah hiasan-hiasan emas yang merupakan kombinasi antara ajaran Kristen dan Kepercayaan Inca. Misalnya patung bunda Maria yang berbentuks segitiga, patung Marianya adalah lambang kekristenan tetapi segitiganya adalah lambang Inca. Orang Inca mengenal tiga sisi kehidupan yang berputar (inkarnasi) yang dilambangkan dengan Burung Rajawali (El Condor) yakni dunia atas / surga, Puma dunia bumi / manusia dan Ular lambang dunia bawa/mati. Begitu juga dengan La Chacana (Salib Inca). Kosmologi Inca berbentuk seperti salib. Di tengah-tengah simbol La Chacana ini ditempatkan salib Yesus Kristus sehingga terjadilah pembauran antara Kekristenan dan kepercayaan Inca. [caption id="attachment_126" align="alignright" width="250" caption="La chakana"][/caption]
Kemegahan hiasan-hiasan katedral ini sangat mengagumkan, tetapi tidak bisa difotokan karena dilarang mengambil foto selama di dalam katedral.[caption id="attachment_118" align="alignleft" width="300" caption="Katedral Cusco"][/caption]

La Chacana (salib Inca) dan Gereja Katedral Cusco.
Dari Katedral Cusco kami menelusuri jalan-jalan Inca menuju Istana Qoriqancha. Istana Qoriqancha adalah salah satu istana yang dipenuhi dengan hiasan emas. Di istana ini terdapat Santuario del Sol, tempat pemujaan terhadap Matahari yang dipenuhi dengan emas. Semua tempat pemujaannya dipenuhi dengan emas. Bahkan ditemukan beberapa kuburan yang dikelilingi oleh emas ditempat ini. Selain itu ditempat ini juga ada tempat penyembahan Luna dan Venus (Dewa Bulan dan Venus). Templo de la Luna adalah tempat kuburan para perempuan Inca dan Templo de Venus adalah tempat ritus dan pengurbanan Inca. Tempat ini sekarang telah menjadi Gereja Santo Domingo di mana terdapat seminari dari ordo Dominican.

Istana Qoriqancha yang sekarang menjadi Gereja Santo Domingo.[caption id="attachment_130" align="alignright" width="300" caption="Qoriqancha pada malam hari"][/caption]
Dari Qoriqancha kami menuju Sacsayhuamán. Sacsayhuaman terletak kurang lebih 2 km di luar Kota Cusco dengan ketinggian 3.700 meter di atas permukaan laut. [caption id="attachment_131" align="alignleft" width="300" caption="Sagsayhuaman"][/caption]Di sini kita bisa saksikan kekuatan Inca yang membangun kota dengan batu ribuan ton. Di sini menurut para ahli dilakukan ritus terhadap dewa air. Dari sini bisa dilihat kota Cusco dalam bentuk yang sesungguhnya yakni binatang Puma (Lihat gambar di bawah ini)
Di depan Qoriqoncha



Inilah model kota Cusco zaman dulu. Cusco adalah kota yang berbentuk Puma. Sekarang ini bentuk ini tidak bisa dilihat dengan jelas karena perkembangan kota yang besar.
Setelah mengunjungi semua tempat turis di Cusco kami kembali ke Plaza de Armas untuk menikmati indahnya Cusco di malam hari sambil menikmati makan malam. Rasa-rasanya seperti tinggal di Eropa saja karena di sini banyak sekali turis orang Eropa dan juga dari Asia. Setelah makan malam kami cepat-cepat ke hotel untuk beristirahat, menyiapkan diri untuk menikmati perjalanan tour hari berikutnya.
Lembah Urubamba: Ollanta y Tambo
Tepat pukul delapan pagi kami sudah dijemput untuk menelusuri Lembah Urubamba. Perjalanan menuju Lembah Urubamba memakan waktu kurang lebih 2 jam. Sepanjang perjalanan kita bisa menikmati indahnya pegunungan Andes yang dipenuhi dengan es. Kemudian perjalanan menurun menuju Lembah Urubamba. Urubamba sebenarnya adalah nama sungai yakni Sungai Urubamba. Kadang-kadang daerah ini disebut juga Secret Valley, karena daerah ini merupakan tempat rahasia atau tempat yang baru diketahui oleh orang Spanyol belakangan. Sungai Urubamba merupakan urat nadi perekonomian Inca. Disekitar lembah ini ditemukan daerah-daerah pertanian orang Inca. Berbagai macam tanaman khas Inca ditemukan di daerah ini, misalnya quinua, maca, kiwicha dll. Selain itu di daerah ini juga terdapat industri kain alpaca dari bulu binatang llama.[caption id="attachment_128" align="alignleft" width="300" caption="Lembah Urubamba"][/caption]
Tempat pertama yang kami kunjungi di sini adalah Pisac. Pisac adalah kota di tengah Lembah Urubamba, tempat di mana kita bisa menikmati indahnya hasil kerajinan tangan budaya Inca, seperti kain alpaca dan berbagai jenis hiasan emas dan perak. Di sini kita bisa menikmati juga bagaimana mereka membuat kain alpaca (seperti tenunan songket di NTT). [caption id="attachment_115" align="aligncenter" width="300" caption="Pemandangan menuju Lembah Urubamba"][/caption]


Lembah Urubamba
Di kedua ujung lembah yang panjang ini terdapat dua situs penting yang membuat tempat ini disebut sebagai “Secret Valley” (Lembah Rahasia) karena disini ditemukan dua kota rahasia Inca yakni Ollantaytambo dan Machu Picchu.
Ollantaytambo
Ollantaytambo adalah sebuah kota di salah satu ujung Lembah Urubamba. Ini merupakan kota tempat Raja Inca terakhir Manco Inca Yupanqui bertahta dan meneruskan kekuasaannya. Di sini dia membangun kota Inca dengan masyarakat Inca. Civilisasi Inca bisa dipelajari di sini. Keluarga-keluarga Inca masih berada di daerah ini. Sama seperti kota Cusco Ollantaytambo juga merupakan kota yang dibangun dengan bentuk Puma. Di kepala Puma ini terdapat tempat penyembahan terhadap Dewa Matahari yang dalam Bahasa Quechua (Inca) adalah Inti Raymi. Hal yang sangat mencengangkan adalah bahwa kota ini dibangun sesuai dengan tata letak planet dan dibangun di atas gunung dengan bebatuan yang besar. Susah dibayangkan teknologi apa yang mereka gunakan sehingga bisa membangun kota yang begitu megah dan kuat. Karena itu banyak orang mengatakan bahwa kota ini dibangun oleh manusia dari planet lain atau manusia angkasa luar. Tetapi sebenarnya ini adalah ketekunan dan kerajinan orang Inca yang dilandasi oleh kepercayaan mereka terhadap Inti Raymi.

Sisa-sisa reruntuhan Ollantaytambo dan tempat penyembahan Dewa Matahari di puncak Ollantaytambo
Setelah menikmati indahnya Ollantaytambo kami mengunjungi Kampung Chinchero. Kampung Chinchero berada di ketinggian kurang lebih 4070 meter di atas permukaan laut. Di sini adalah perkampungan Inca yang masih meneruskan semua bentuk kerajinan Inca terutama menenun. Di sini para turis menyaksikan bagaimana mereka membuat tenunan dari alpaca (bulu llama). Daerah ini sangat dingin dan memiliki pemandangan yang indah karena berada di ketinggian. Setelah menyaksikan cara mereka menenun kita juga bisa membeli berbagai hiasan atau kerajinan tangan Inca misalnya baju dari alpaca. [caption id="attachment_116" align="aligncenter" width="300" caption="Ollanta y Tambo"][/caption]

Setelah itu kami kembali ke Cusco dan beristirahat untuk bersiap-siap menuju kota rahasia berikutnya yakni Machu Picchu yang merupakan salah satu dari keajaiban dunia.
Machu Picchu
Jam 6 pagi kami berangkat menuju Ollanta untuk mengambil kereta menuju Machu Picchu. Tepat pukul 8 pagi kami tiba di Ollanta dan langsung naik kereta api menuju Aguas Calientes. Naik kereta api merupakan suatu hal yang biasa. Tetapi naik kereta api Ollanta ke Aguas Calientes merupakan suatu pengalaman yang khusus bagi saya, karena ini adalah rel kereta api tertinggi di dunia kurang lebih 2000 km di atas permukaan laut. Juga karena kereta api ini melewati lembah di sepanjang sungai seperti berjalan di tengah hutan. Udara yang segar dan dingin membuat kita merasa sepertinya berjalan di tengah hutan.
Di kereta ini saya bertemu dengan semua turis yang bertujuan mengunjungi Machu Picchu. Selain itu patut diketahui juga bahwa untuk sampai ke Machu Picchu bisa dicapai dengan jalan kaki, yang melewati berbagai lembah curam. Bagi yang suka ketinggian dan bertahan dengan udara dingin ini adalah suatu petualangan yang menyenangkan. Bagi mereka yang tidak punya cukup waktu bisa dicapai dengan naik kereta ini. Suasana di kereta sangat menyenangkan. Di sini saya bertemu dengan turis-turis dari Indonesia yang juga dalam perjalanan menuju Machu Picchu. Dua jam perjalanan kereta dengan melewati daerah pertanian, sungai, gua dan hutan membuat perjalanan ini sangat menyenangkan. Apalagi keretanya berjalan dengan pelan supaya para turis bisa mengambil foto.
Di Aguas Calientes kami disambut oleh guide Cusco Travel yang sudah siap menemani kami. Di Machu Picchu makanan dan minuman harganya mahal jadi lebih baik membeli makanan atau minuman seadanya sebelum berangkat menuju Machu Picchu. Dari Aguas Calientes kami naik bus yang mengantar kami menuju kaki Machu Picchu. Perjalanan ini kurang lebih memakan waktu sekitar 30 menit. Di gerbang Machu Picchu sudah terdapat begitu banyak turis yang keluar masuk menuju situs terkenal ini. [caption id="attachment_123" align="alignleft" width="300" caption="Llama dan perumahan Inca"][/caption]

Melihat Machu Picchu dari foto atau video memang sangat berbeda kalau dilihat secara langsung. Machu Picchu sebenarnya tidak lebih dari sekedar reruntuhan bangunan kota tua di atas puncak gunung. Yang menarik sebenarnya adalah sejarah kota ini dan letaknya di sela-sela gunung lain yang menjulang tinggi dan curam. Rasanya seperti berada di puncak dunia. Pemandangan hijau dan awan yang menyelimuti tempat-tempat di sekitarnya membuat daya magis Machu Picchu menjadi sesuatu yang unik.
Machu Picchu sendiri berarti Gunung Tua, yakni sebuah gunung yang berada di belakang situs Machu Picchu. Tempat ini adalah tempat peristirahatan bagi bangsawan Inca. Di sini terdapat tempat pertanian, sekolah, rumah dan tempat penyembahan bagi Inti Raymi. Tempat ini susah dicapai oleh para penjajah Spanyol karena letaknya yang sulit dicapai. Saat dikejar-kejar Spanyol kaum bangsawan Inca melarikan diri dan menyembunyikan diri di sini. Daerah ini akhirnya ditinggalkan oleh orang Inca juga karena penyakit yang mereka alami.[caption id="attachment_112" align="alignright" width="300" caption="Machu Picchu"][/caption]


Tepat jam 12.30 kami memasuki situs Machu Picchu ini. Guide yang membawa kami menjelaskan sejarah Machu Picchu dan sistem kehidupan yang mereka jalankan di daerah ini. Menarik dan luar biasa. Di sini juga kita bisa temukan tanaman coca, minuman utama orang Inca. Setelah kurang lebih satu setengah jam mengikuti guide kami keluar untuk beristirahat sebentar. Setelah itu saya masuk lagi ke situs Machu Picchu untuk menapakinya mulai dari tempat yang paling tinggi menuju yang paling rendah. Di sini saya beristirahat siang sedikit di atas rumput Machu Picchu sambil menikmati indahnya alam Inca. [caption id="attachment_114" align="alignleft" width="300" caption="Machu dan Lembah Urubamba"][/caption]

Setelah beristirahat sebentar akhirnya tepat jam 4 sore kami turun dari Machu Pichu ke Aguas Calientes. Di Aguas Calientes bisa dibeli berbagai cinderamata sebagai kenangan dari Machu Picchu. Aguas Calientes terasa seperti kota kecil internasional karena semua suku bangsa bisa ditemukan di sini. Di sini saya bisa bertemu dengan turis dari Argentina, Australia, USA, Jepang, Indonesia, China, India dll. Tepat pukul 6 sore kami naik kereta untuk kembali ke Ollanta. Perjalanan malam pulang ke Ollanta tidak seramai perjalan kereta paginya, karena hampir semua turis tidur karena capeh menikmati indahnya Machu Picchu. Tepat jam 8 malam kami tiba di Ollanta dan tour kami sudah siap untuk membawa kami pulang ke Cusco di mana saya menginap. Keesokan harinya pagi-pagi saya kembali ke Lima Peru dalam penerbangan yang memakan waktu satu setengah jam.[caption id="attachment_122" align="alignright" width="300" caption="Bersama sekumpulan orang Asia di pintu masuk Machu Picchu"][/caption]

Selasa, 06 September 2011

Colombia: JARINGAN NARKOTRAFIK COLOMBIA MENGGUNAKAN 25 PESAWAT LEGAL DARI AMERIKA SERIKAT DAN AMERIKA TENGAH


Jaringan narkotrafik Colombia “El Loco Barrera” (Si Gila Barrera) mampu membeli 25 pesawat secara legal dari Amerika Serikat dan Amerika Tengah melalui kurang lebih 12 perusahaan terselubung, yang kemudian digunakan untuk membawa narkoba. Sebuah operasi bersama dari angkatan bersenjata Colombia, Venezuela dan Amerika Serikat telah mengakhiri semua penerbangan dari pesawat-pesawat ini.

Pada akhir operasi bersama ini mereka menemukan tidak hanya pesawat melainkan juga 10 lapangan terbang terselubung, dua di antaranya berada di Venezuela. Semuanya membentuk sebuah jaringan yang sulit untuk dilacak untuk membawa narkoba. Diketahui juga bahwa pegawai kontrol penerbangan terlibat dalam narkotrafik ini.

Biasanya pesawat ini terbang dari lapangan terbang resmi, kemudian mendarat di lapangan terbang terselubung untuk diisi dengan narkoba dan barang ilegal lainnya, lalu kemudian terbang menuju lapangan terbang tujuan yang resmi. Pengontrol penerbangan hanya menyebutkan penerbangan pertama dan tidak memberitahukan bahwa pesawat tersebut mendarat di lapangan terbang terselubung sebelum menuju ke lapangan terbang resmi yang menjadi tujuannya.

Narkoba hasil penyelundupan ini kemudian didistribusikan oleh kartel “Chapo Guzmán” dan Ismael Mario Zambada García yang lebih dikenal sebagai “Mayo”. Operasi angkatan bersenjata untuk menumpasi jaringan ini berhasil menangkap 36 orang yang terlibat dalam jaringan narkoba.

Harus disadari pula bahwa narkotrafik Colombia tidak hanya menggunakan pesawat terbang yang mereka beli, melainkan juga mereka memproduksi pesawat terbang mereka sendiri dalam sebuah pabrik terselubung, seperti yang ditemukan baru-baru ini di Colombia.

Sumber http://actualidad.rt.com/actualidad/america_latina/issue_29293.html

Senin, 05 September 2011

Guatemala: DUA BERSAUDARA AKHIRNYA BERTEMU SETELAH 30 TAHUN BERPISAH KARENA KONFLIK DI GUATEMALA


Dua bersaudara dari Suku K´iche bertemu kembali di Guatemala setelah 30 tahun berpisah karena konflik yang melanda Guatemala antara tahun 1960-1996. Setahun setelah diinvestigasi, Grupo de Apoyo Mutuo (GAM = Kelompok Tolong Menolong) yang mempertemukan keluarga para korban perang, mampu mempertemukan Maria Lux dengan saudaranya Baltazar. Seorang pekerja kemanusiaan, Enrique Barrera, menjelaskan dalam siaran pers bahwa pada awalnya mereka menemukan Baltazar di kampung La Esmeralda, kabupaten Dolores, di wilayah utara dari Petén. Baltazar dulu tinggal di Los Cimientos de San Bartolomé Jocotenango di wilayah Quiché, ketika dia berpisah dari keluarganya tahun 1981 karena konflik bersenjata.

“Saya pergi melarikan diri dengan bapa saya ke pantai selatan, tetapi di sana saya bertemu dengan beberapa teman saya, lalu saya pergi sendiri ke daerah Chiapas (Meksiko) dan sejak saat itu tidak tahu sama sekali tentang keluarga saya”, kata Baltazar. Menurut GAM, bapa Baltazar sudah meninggal dunia di kampungnya beberapa tahun lalu. Setelah hidup sebagai pengungsi selama hampir 25 tahun, dia memutuskan untuk kembali ke Guatemala, tetapi dia tidak pulang ke kampungnya melainkan ke Petén, di mana ada kelompok orang-orang Guatemala yang kembali dari Meksiko. Dia kembali ke Guatemala setelah menikah dengan seorang perempuan pengungsi dari Guatemala dan memiliki empat orang anak. Dia mengatakan bahwa dia tidak pergi ke kampungnya karena tidak tahu apakah keluarganya masih hidup di kampung yang sama. Karena itu sejak tahun lalu dia memutuskan untuk mencari mereka melalui GAM dan Palang Merah Internasional.

Baltazar yang sekarang berumur 47 tahun, akhirnya bertemu dengan saudarinya Maria dan keponakannya Diego di pusat GAM di ibukota Guatemala. “Saya senang. Sudah cukup lama ingin mencari keluarga saya”, katanya. Dia juga memutuskan untuk dalam beberapa hari ke depan pergi mengunjungi kampungnya dulu, di mana keluarga besarnya tinggal. “Saya akan pulang ke Peten di mana istri dan ke empat anak saya berada. Tetapi saya akan membuat kontak dengan mereka untuk melihat kapan saya akan mengunjungi mereka”, katanya.

Menurut Barrera, ini adalah pertemuan keempat dari keluarga-keluarga yang berpisah selama perang, yang ditolong oleh GAM selama tahun 2011. Dan mereka masih meneliti 15 kasus lainnya, yang menurut mereka akan bisa terungkap sebelum tahun 2011 berakhir. Sementara direktur GAM, Maria Polanco, menyatakan bahwa perang meninggalkan ribuan keluarga berpisah. Organisasi-organisasi kemanusiaan sedang berusaha supaya diadakan rekonsiliasi nasional. Konflik bersenjata yang selesai tanggal 29 Desember 1996 dengan ditandatanganinya Perjanjian Perdamaian antara pemerintah dan pihak gerilya, menghasilkan 250.000 orang korban meninggal dan hilang.

http://www.diariolasamericas.com/noticia/127289/30/hermanos-separados-por-la-guerra-se-reencuentran-30-a%C3%B1os-despu%C3%A9s-en-guatemala

Venezuela: PRESIDEN HUGO CHAVEZ MENYATAKAN DIRINYA SEHAT DAN SIAP UNTUK MENJADI CALON PRESIDEN DALAM PEMILU 2012


Presiden Venezuela, Hugo Chavez, hari ini meninggalkan Rumah Sakit di mana dia harus melakukan kemoterapi dengan hasil yang “memuaskan” dan menyerukan dengan tegas di hadapan para pendukung yang mengelukannya di jalan-jalan, bahwa dirinya siap untuk “pemilihan umum 2012”.

“Saya kuat”, kata Chavez yang selalu berpakaian militer dan bertopi merah, ketika dia keluar dari Rumah Sakit Militer Caracas. Dia juga menyatakan bahwa dia masuk dengan 87.2 kg dan keluar dari rumah sakit dengan berat 88.5 kg.
Chavez tampil dengan penuh semangat, dan kali ini dia tampil tanpa ditemani kaum medis yang selalu menemaninya selama keberadaannya di rumah sakit. Bahkan dia menunjukkan badannya yang kekar dan mengatakan bahwa dia melakukan olahraga rutin setiap harinya.

Chavez yang sejak hari Sabtu lalu berada di Rumah Sakit Militer Caracas, menerima pengobatan kemoterapi yang ketiga kalinya untuk melanjutkan perjuangannya melawan penyakit kanker. Para medis mengatakan bahwa Presiden Chavez berada dalam kondisi yang bagus bukan saja secara psikologis tetapi juga secara fisik.

Chavez sendiri mengatakan bahwa pengobatan yang dilakukannya adalah “pencegahan”, dan dia sendiri tidak tahu jika seandainyaa ada yang kurang maka bisa saja ada kemoterapi yang ke empat. Dia juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Cuba, khususnya kepada temannya Fidel Castro, dan Presiden Cuba, Raúl Castro.

Saat keluar dari rumah sakit, Chavez menggunakan mobil bak terbuka dan memegang mikrofon untuk menyalami para pendukungnya selama perjalanan menuju ke Istana Miraflores. “Kita akan hidup dan menang. Dan di sini kita hidup dan menang. Hidup masyarakat Venezuela!”, teriak Hugo Chavez yang disambut hangat oleh ratusan penggemarnya.

Dan di Miraflores, dia diterima dengan musik khas dari daerah di mana dia lahir. Dia ditemani oleh beberapa undangan dan kemudian diadakan doa bersama yang dipimpin oleh pastor untuk kantor pemerintahan. Dalam pidato yang harus dipancarkan oleh berbagai TV dan radio, Chavez menyatakan bahwa “pemerintahannya tidak akan menguburkan atau menghancurkan siapa pun”.
“Sudah siap tampil untuk 2012”, katanya menjawabi reaksi ratusan pendukungnya.Tahun depan akan diadakan pemilihan presiden di mana Chavez telah mengantisipasinya dan akan mencalonkan dirinya sebagai calon presiden. Karena itu tidak mengherankan bahwa di Venezuela ada semacam rumor bahwa Chavez akan berada di Istana Miraflores “sampai tahun dua ribu…selamanya”.

Di lain pihak, dia menuduh para lawan politiknya yang ingin mengaplikasikan apa yang disebutnya sebagai “model Libya” dalam pemilihan umum tahun 2012. Dia juga menekankan bahwa ada kelompok dari golongan ekstrim kanan yang sedang mencoba dalam beberapa bulan ke depan supaya Venezuela “terbakar”. “Tuhan akan membebaskan kita, di sini hal tersebut tidak akan terjadi”, katanya. Dia juga meminta supaya Tuhan dan Allah melindungi pemimpin Libia Moamar Qadafi.

http://www.diariolasamericas.com/noticia/127331/32/ch%C3%A1vez-sale-del-hospital-oinmejorable-y-pensando-en-2012

Venezuela: POLITIK VENEZUELA DAN KESEHATAN PRESIDEN HUGO CHAVEZ


Situasi kesehatan Presiden Venezuela, Hugo Chavez, menjadi polemik baik bagi Venezuela sendiri maupun bagi negara-negara lain. Situasi ini telah menimbulkan diskusi yang hangat dan berbagai spekulasi tentang kekuasaan Hugo Chavez. Apalagi tahun depan akan diadakan pemilihan umum di Venezuela.

Semuanya berawal pada bulan Juni lalu, saat di mana Hugo Chavez menunda semua kunjungannya ke negara Brazil, Ecuador dan Cuba. Diperkirakan pada tanggal 10 Juni, Hugo Chavez harus ke Cuba untuk mengatasi kanker yang dideritanya. Sejak tanggal 10 Juni tidak ada berita tentang Chavez. Baru tanggal 20 Juni akhirnya diberitakan dengan jelas bahwa Chavez harus berada di Cuba selama sebulan untuk mengatasi penyakit kanker yang menyerang bagian perutnya.
Keberadaan Chavez selama sebulan lebih di Cuba dan kurangnya informasi yang benar tentang kesehatannya, menimbulkan diskusi besar dalam dunia politik Venezuela. Terutama dalam hal siapa yang memimpin Venezuela apabila Presiden Chavez sakit dan berada di luar negeri lebih dari sebulan. Ada yang mengatakan bahwa wakil presiden harus mengambil alih kepemimpinan, sementara ada juga pihak lain yang mengatakan bahwa presiden bisa menjalankan tugasnya dari luar negeri. Dalam hal ini, berdasarkan Konstitusi Republik Bolivariana Venezuela, yang dimulai saat Chavez berkuasa, tahun 1999 menyatakan bahwa ada dua situasi “ketidakhadiran” presiden: ketidakhadiran absolut dan ketidakhadiran temporal. Ketidakhadiran temporal, yakni ketidakhadiran selama 99 hari. Selama masa ketidakhadiran temporal maka yang berkuasa adalah wakil presiden. Sedangkan ketidakhadiran absolut atau mutlak adalah ketidakhadiran karena meninggal, sakit permanen dan meninggalkan atau melarikan diri dari negara Venezuela. Ketidakhadiran absolut seorang presiden akan diikuti oleh pemilihan umum presiden yang baru. Tetapi jika masa kepresidenannya tinggal dua tahun, maka wakil presiden meneruskan kekuasaan presiden sampai pemilihan presiden berikutnya. Persoalannya adalah untuk menyatakan bahwa seorang presiden tidak mampu lagi untuk memimpin harus mendapat persetujuan Asamblea Nasional yang sebagian besar adalah pendukung Chavez. Asamblea Nasional inilah yang menyatakan bahwa, walaupun Chavez secara fisik tidak hadir di Venezuela, tetapi dia bisa meneruskan kepemimpinannya dari luar negeri. Diskusi ini juga akhirnya menyinggung masalah sistem politik Venezuela di mana wakil presiden ditunjuk oleh presiden.

Setelah berat badannya menurun, dan telah menginformasikan ke masyarakat Venezuela tentang operasi kanker yang dilakukannya melalui TV Cuba, akhirnya Hugo Chavez muncul kembali di depan public Venezuela untuk merayakan 2 abad kemerdekaan Venezuela tanggal 5 Juli lalu. Namun ketidakhadirannya dalam perayaan tersebut di Istana Miraflores, dan Angkatan Bersenjata melakukan desfile tanpa kehadirannya, menimbulkan berbagai spekulasi baru tentang beratnya sakit yang diderita Chavez.

Setelah dia kembali ke Venezuela, Chavez yang dikenal sebagai “hiperpresente” karena kehadirannya dalam lebih dari 2.200 jaringan informasi di Venezuela, akhirnya harus menggunakan “twitter” untuk menunjukkan keberadaannya di tengah masyarakat. Melalui TV Nasional, di mana dia sering tampil membawakan pidato-pidatonya, dia menjelaskan proses-proses yang harus dijalankannya untuk mengatasi kankernya.

Salah satu hal yang membuat Chavez harus tampil di publik saat itu dan kembali ke Venezuela dari semua proses penyembuhannya di Cuba, yang belum selesai, adalah munculnya konspirasi dan perdebatan internal tentang pergantian presiden. Dari berbagai versi yang muncul saat itu misalnya kakak sulung Chavez, yang bernama Adan, yang adalah gubernur di negara bagian Barinas, akan mengambil alih kekuasaan, dan juga beredarnya berita bahwa Angkatan Bersenjata sedang berunding untuk melakukan kudeta atas pemerintahan Chavez. Diluar semua itu, Chavez meratifikasi kabinet ministerial dan kepala militer, serta menetapkan Jaua (wakil presiden) untuk mereorganisir tim kerja untuk etapa baru di Venezuela.

Rumor lain yang membuat Presiden Chavez harus cepat kembali ke Venezuela adalah, kemungkinan transisi politik yang bisa dilakukan sebelun pemilihan tahun 2012. Terhadap rumor ini, Chavez mengatakan bahwa satu-satunya perubahan yang diperkenankan di Venezuela adalah perubahan menuju sosialisme dan menegaskan bahwa dia akan tetap memerintah. Dia juga menyatakan bahwa dia akan mempertahankan pemerintahanya dari setiap kemungkinan untuk menggulingkannya dan menegaskan kembali pencalonan dirinya sebagai presiden karena alasan “kesehatan, pengetahuan, kemanusiaan, cinta dan politis”. Situasi politik ini semakin memanas dengan kehadiran Presiden Chavez di depan publik yang semakin berkurang. Dan ini bisa saja membuat karir kepresidenannya akan berakhir.

Namun demikian, kepemimpinan Chavez yang menjadi “figur sosialisme” abad XXI dan ketidakhadiran figur lain yang bisa memimpin Venezuela, serta kuatnya dukungan publik dan Asamblea Nasional, membuat kekuasaan Chavez tak tergoyahkan. Sementara figur-figur politik oposisi berspekulasi bahwa sakit yang diderita Chavez “dibuat” oleh pemerintah untuk menegaskan pencalonan dirinya pada pemilihan tahun 2012. Para analist menyatakan bahwa hal yang terbaik bagi para oposisi untuk keluar dari situasi menguatnya pencalonan presiden Chavez adalah, terus melakukan perdebatan dalam hal ide tentang kepemimpinan, dengan mengkritisi 12 tahun masa kepemimpinan Chavez, situasi ekonomi Venezuela yang semakin menurun dan berusaha untuk tidak masuk dalam jebakan politik Chavez.

Penyakit yang dihadapi oleh Chavez tidak hanya menyibukkan masyarakat Venezuela, tetapi juga telah menjadi perhatian publik Amerika, khususnya Amerika Serikat dan Cuba. Salah satu negara yang memiliki hubungan yang dekat dengan Venezuela adalah Cuba. Relasi politik dan ekonomi kedua negara sangat kuat dalam kepemimpinan Chavez di Venezuela. Dalam bidang politik dan ideologi ,Chavez membentuk ALBA sebagai alternatif terhadap ALCA yang dibentuk oleh Amerika Serikat. Dalam bidang ekonomi, Cuba mendapat banyak dukungan dari Venezuela. Walaupun sejak tahun 2008, Raul Castro sudah mulai melakukan diversifikasi perdagangan, namun Venezuela merupakan satu-satunya negara yang memiliki relasi bilateral dalam bidang ekonomi yang paling kuat dibangun oleh Cuba. Terutama dalam pertukaran yang didasarkan pada penjualan subsidi minyak Venezuela ke Cuba sebanyak 100.000 barel per hari, yang dibayar oleh Cuba dengan pelayanan medis, guru dan pelatih olah raga, sebagai bagian dari proyek Chavisme dalam mendukung kesamaan sosial dan kualitas kehidupan bagi masyarakat miskin di Venezuela.

Akhirnya, walaupun ada ketidakjelasan dan spekulasi dalam hal kesehatan Chavez, kepopularitasannya tetap pada 50%. Berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan oleh Datanalisis: jika pemilihan umum dilakukan sekarang ini di Venezuela, walaupun oposisi belum memiliki calon yang jelas, 31.7% akan memilih Chavez dan 18.8% akan memilih gubernur Negara Bagian Miranda, Henrique Capriles, yang sekarang ini merupakan calon oposisi yang terpopuler. Sementara 21.7% masyarakat berpendapat bahwa seorang presiden bisa mencalonkan dirinya untuk masa kepresidenan yang ketiga kalinya, sedangkan 64.5% menolak. Ini berarti masyarakat menolak pencalonan Presiden Chavez dalam pemilihan umum berikut. Namun demikian Presiden Chavez optimis bahwa dirinya akan menang dan terus mengintensifkan Revolusi Bolivariana Venezuela.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons