Thursday, 18 December 2014

AMERIKA SELATAN DAN PRESIDEN PERIODE KEDUA ATAU KETIGA

Peta politik Amerika Selatan (Kolombia, Venezuela, Ekuador, Peru, Bolivia, Chile, Argentina, Brasil, Paraguay dan Uruguay) sangat erat kaitannya dengan para presiden yang dipilih oleh rakyat Amerika Selatan. Sebagian besar presiden yang terpilih adalah presiden yang terpilih kembali untuk jabatan yang kedua kalinya bahkan ada yang ketiga kalinya.
Presiden Bolivia Evo Morales dan Presiden Ekuador bertahta sebagai presiden untuk periode yang ketiga kalinya (walaupun Evo Morales menyebutnya sebagai yang kedua). Sementara Presiden Brasil, Dilma Rousseff; Presiden Uruguay, Tabare Vasquez; Presiden Chile, Michelle Bachelet; Presiden Argentina, Cristina Fernandez; Presiden Kolombia,Jose Manuel Santos; bertahta untuk periode kedua sebagai presiden. Hanya Peru, Venezuela dan Paraguay yang dipimpin oleh kepala negara baru.
Yang paling menarik adalah semua mantan presiden di Amerika Selatan mencoba keberuntungan mereka untuk menjadi presiden kedua kalinya. Alan Garcia (mencalonkan diri sebagai presiden untuk ketiga kalinya)  dan Alejandro Toledo di Peru sudah memulai kembali pencalonan diri mereka dalam pemilu 2016. Sementara Presiden Ollanta Humala berusaha untuk mencalonkan istrinya sebagai capres dalam pemilu yang sama. Sebastian Pinera di Chile juga menunjukkan kemauannya untuk mencalonkan diri sebagai capres dalam pemilu presiden yang akan datang. Nicolas Maduro di Venezuela sudah pasti akan mencalonkan diri kembali dalam pemilu presiden yang akan datang.
Situasi ini membawa banyak pertanyaan tentang demokrasi di Amerika Selatan. Apakah pencalonan mereka sebagai presiden untuk periode yang kedua kalinya dan keberadaan mereka sebagai presiden terpilih membawa manfaat bagi perkembangan demokrasi di Amerika Selatan atau justru melemahkan proses demokrasi? Lalu apa yang menyebabkan situasi ini terjadi?
Kenyataan politik di Amerika Selatan adalah partai-partai politik (tradisional dan modern) tidak berhasil mengkaderkan pemimpin-pemimpin baru dengan idealisme baru. Para pemimpin partai politik lebih banyak berpikir tentang dinasti monarki partai daripada pemimpin yang demokratis. Partai politik tidak dibangun sebagai sebuah sistem tetapi lebih pada figur siapa yang memimpin. Kharisma pemimpin menjadi kunci utama daripada kinerja kerjasama internal partai. Hal ini tidak memunculkan pemimpin-pemimpin muda yang baru dan penuh idealisme yang merakyat. Di Peru, Alberto Fujimori menjadikan anak perempuannya Keiko Fujimori sebagai “Ibu Negara” yang kemudian mencalonkan diri sebagai presiden, namun gagal menjadi presiden. Demikian juga almarhum Nestor Kirchner mendaulat istrinya Cristina Fernandez sebagai capres dan berhasil menjadi presiden.
Sementara masyarakat pemilih yang sebagian besar merupakan kelas menengah ke bawah tidak bisa memilih secara bebas. Kurangnya pendidikan dan kemiskinan membuat suara mereka pasti mengarah kepada pemimpin yang memberikan mereka “makan” atau “uang” atau janji pendidikan gratis. Peran uang masih sangat kental dalam hal siapa yang akan mereka pilih. Selain itu juga, masyarakat Amerika Selatan berprinsip kalau yang sekarang sudah lebih baik, mengapa harus memilih yang belum dikenal? Calon-calon presiden dari partai oposisi biasanya orang-orang yang tidak dikenal track-recordnya. Ada pepatah di masyarakat yang menyatakan “mas vale votar al diablo conocido” artinya “lebih baik memilih setan yang sudah dikenal” daripada yang belum dikenal.
Apakah para presiden yang terpilih untuk kedua kali atau ketiga kalinya bisa membawa kesejahteraan dan mengembangkan demokrasi di Amerika Selatan? Waktu akan membuktikannya, bila mereka belajar dari pengalaman mereka sebagai kepala negara untuk membangun negaranya lebih baik atau lebih buruk. 
Benny Kalakoe

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons