Thursday, 19 June 2014

DIPLOMASI POLITIK DI SELA PIALA DUNIA BRASIL 2014

Bola kaki memang luar biasa. Tidak hanya mempersatukan seluruh umat manusia untuk berhenti sejenak menikmati indahnya bermain bola, tetapi juga menjadi ajang untuk meredakan ketegangan politik. Wakil Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, yang berkunjung ke Brasil untuk mendukung tim sepak bola Amerika Serikat melawan Ghana, memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bertemu dengan Presiden Dilma Rousseff dan berusaha meredakan ketegangan kedua negara yang sempat memanas akibat isu kegiatan spionase Amerika Serikat di Brasil setahun yang lalu. 


Hubungan bilateral Brasil dan Amerika Serikat sangat memanas setahun yang lalu ketika Snowden menyatakan kerja spionase Amerika Serikat di Brasil. Berita kerja spionase tersebut membuat heboh pemerintahan Brasil dan mereka menuntut supaya Amerika Serikat memberikan jawaban yang jelas mengenai kerja spionase Amerika Serikat di Brasil. Amerika Serikat tidak memberikan jawaban yang jelas kepada Brasil atas isu kegiatan spinose tersebut. Hal tersebut membuat Presiden Brasil Dilma Rousseff menunda kunjungan resmi kenegaraannya ke Amerika Serikat bulan Oktober tahun lalu.

Hari Selasa tanggal 17 Juni 2014 lalu Wakil Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, memanfaatkan kunjungannya untuk mendukung tim Amerika Serikat yang berpartisipasi dalam Piala Dunia Brasil untuk menurunkan tensi ketegangan hubungan diplomatik kedua negara. Joe Biden menjelaskan bahwa Amerika Serikat berusaha supaya pekerjaan mereka yang dimasukkan dalam internet bisa dijamin keamanannya.
Sementara pihak Brasil belum menyampaikan komentar resmi hasil kunjungan Joe Biden ke negara mereka. Namun sebelum pertemuan kedua petinggi negara tersebut, Dilma Rousseff menyatakan bahwa dia sangat mengharapkan supaya Amerika Serikat memberikan sinyal yang jelas bahwa kegiatan spionase Amerika Serikat di Brasil tidak akan terulang lagi.

Di lain pihak, hari Minggu lalu tanggal 15 Juni 2014 Kansiler Jerman, Angela Merkel, yang juga salah satu korban kegiatan spionase Amerika Serikat, bersama dengan Dilma menyepakati sebuah resolusi di PBB yang mendukung pentingnya menerapkan proteksi yang lebih kuat kepada privasidad dalam era globalisasi sekarang ini. “Hak atas privasidad” di interner yang merupakan hasil dari usaha Rousseff dalam pertemuan PBB yang membahas skandal spionase di Sao Paolo Brasil bulan April lalu, didukung kuat oleh Angela Merkel. Terhadap masalah ini Joe Biden menyatakan bahwa negara Amerika Serikat siap untuk menggalang dukungan komunitas internasional untuk menjamin hak-hak pengguna internet dan menjamin sistem regulasi bagi internet.


Menurut Biden, Amerika Serikat dan Brasil adalah dua negara besar yang sangat kuat. Dia mengharapkan supaya Brasil meninggalkan masalah masa lalu dan melihat masa depan yang sedang dihadapi kedua negara. Perdagangan bilateral kedua negara mencapai US$ 100.000 juta tahun 2013. Hubungan bilateral kedua negara harus pulih kembali supaya perdagangan bilateral kedua negara semakin meningkat. Di lain pihak Amerika Serikat juga mulai membuka berbagai dokumen tentang peran Amerika Serikat di Brasil sejak tahun 1964 sampai tahun 1985, sebuah periode di mana Presiden Dilma Rousseff dipenjara selama dua tahun akibat kegiatannya melawan kediktatoran pemerintahan Brasil saat itu. Dokumen-dokumen tersebut akan diberikan kepada Komisi Pencari Kebenaran yang dibentuk oleh Presiden Dilma Rousseff yang bertujuan membongkar semua aksi kekerasan melawan HAM yang terjadi zaman kediktatoran pemerintah Brasil saat itu. 

Benny Kalakoe
19 Juni 2014

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons