Friday, 8 February 2013

MACHU PICCHU, TUTANKANUM DAN SEÑOR DE SIPAN


Kurang lebih jam 10 pagi saya menginjakkan kaki di kota di bagian utara Peru Chiclayo. Perjalanan dengan bis selama 12 jam dari kota Lima (ibu kota Peru) tidak terasa melelahkan, karena jalan raya yang mulus dan di dalam bis  saya bisa tidur dengan nyaman layaknya di rumah. 


Panasnya kota Chiclayo membuat saya terkenang akan Indonesia yang begitu panas. Begitu turun dari bis saya langsung mencari taksi untuk pergi ke pusat kota Chiclayo. Kota-kota bekas jajahan Spanyol pasti memiliki pusat kota yang disebut Plaza de Armas. Di pusat kota bisa ditemukan berbagai informasi penting tentang kota Chiclayo. 

Setelah bertanya kepada penjual koran di jalan raya, ternyata Plaza de Armas Chiclayo tidak jauh dari tempat di mana saya berada, hanya 5 menit dari situ. Karena itu saya memutuskan untuk jalan kaki ke Plaza de Armas. Kios, toko, restoran dan berbagai hal lainnya  terdapat di sepanjang jalan ke Plaza de Armas. Di Plaza de Armas kandang Natal besar untuk menyambut Hari Natal terpancang megah dengan berbagai ornamennya. Setelah mengambil beberapa foto di Plaza de Armas, saya mencari taksi supaya membawa saya ke Museum Señor de Sipan.

Dari Plaza de Armas ke Museum de Señor Sipan kurang lebih ditempuh selama 30 menit dengan harga sebesar 13 Soles (kurang lebih sebesar Rp. 70.000). Salah satu tempat wisata yang paling banyak dikunjungi turis di Chiclayo Peru adalah tempat-tempat arkeologi yang berasal dari zaman Pre-Inca. Di Chiclayo ada beberapa tempat arkeologi terkenal yang kalau ditelusuri satu persatu membutuhkan waktu kurang lebih seminggu. Tetapi salah satu cara untuk mengetahui sejarah Pre-Inca Peru adalah baik kalau mengunjungi museum. Salah satunya yang terkenal adalah Museum Señor de Sipan.


Setelah berjalan selama setengah jam dari Plaza de Armas akhirnya saya tiba di Museum Señor de Sipan. Daerah ini lumayan terpencil dan penuh debu, karena memang Chiclayo adalah kota yang berada di tengah padang pasir. Biaya masuk ke Museum Señor de Sipan bagi orang asing adalah 30 Soles atau kurang lebih (US$ 15). Setelah itu saya ditemani oleh satpam penjaga museum menuju pintu masuk museum.

Untuk masuk ke Museum ini, para pengunjung tidak boleh membawa kamera juga barang-barang lainnya. Penjagaan yang ketat dilakukan karena dalam museum ini terdapat ribuan ornamen purbakala yang terbuat dari emas, perak dan barang-barang berharga lainnya yang nilai jualnya sangat mahal. Karena saya tidak mengenal dengan baik sejarah dan isi museum maka saya membutuhkan seorang guide supaya dia bisa menjelaskan kepada saya secara detail apa sebenarnya yang ditunjukkan dalam Museum Señor de Sipan ini. Di museum ini ada guide dari berbagai bahasa seperti Inggris, Prancis, Portugis, Jepang dan China dan masing-masing guide dibayar 30 Soles.

Señor de Sipan adalah salah satu penemuan arkeologi terpenting dalam beberapa dekade belakangan ini. Di abad XX, setelah penemuan Machu Picchu tahun 1911 dan penemuan makam Tutankamun tahun 1922 di Mesir, tidak ada lagi penemuan yang mengagumkan lagi kecuali penemuan Makam Señor de Sipán di Peru. 
Sipan adalah nama sebuah tempat, yang dalam Bahasa Mochica (Suku Moche)  disebut Siec (bahasa yang sudah hampir punah), yang terletak di daerah pantai utara Peru, di sebuah lembah besar yang bernamaLambayeque kurang lebih sejauh 35 km dari kota Chiclayo. Di sini terdapat dua piramid dari batu bata yang sudah usang yang terletak di tengah perkebunan masyarakat.


Pada tahun 1987 sekelompok arkeolog yang dipimpin oleh Dr. Walter Alva dari Museum Bruning memulai sebuah penggalian arkeologi terhadap sebuah tempat yang terbuat dari batu bata yang ditempatkan di depan dua bangunan seperti piramid, dengan tinggi 30 meter dan di bagian bawahnya terdapat perkebunan tebuh masyarakat Sipan. Monumen-monumen ini merupakan peninggalan zaman Mochica, yang menurut para arkeolog bangunan-bangunan ini merupakan pusat acara religius Budaya Mochica yang sudah mulai hancur. Dalam penggalian tersebut ditemukan sebuah ruangan makam yang belum tersentuh dari seorang warga suku Moche (Mochica). Penemuan ruangan makam yang sangat luar biasa ini memberikan informasi yang cukup besar untuk mengetahui tentang organisasi sosial, agama, teknologi dan sistem kehidupan masyarakat Moche pada waktu itu. 

Penggalian di tempat ini dilakukan dengan sangat hati-hati sekali selama 10 bulan. Dalam penggalian tersebut ditemukan sebuah ruangan sepanjang 2,80 meter dan lebar 1,30 meter di tengah piramid. Dalam ruangan ini ditemukan 1150 potongan keramik yang berisi makanan, empat mahkota terbuat dari perak, tulang belulang binatang llama dan kerangka seorang manusia. Di sebelah timur piramid ditemukan juga sebuah ruangan yang dibatasi oleh batu bata. Setelah digali dari salah satu samping ruangan tersebut ditemukan sebuah kerangkan anak muda pengawal, yang menggunakan perisai dari perak di tangannya. Kedua kakinya dipotong, supaya selalu siap sedia di tempat. Kedua penemuan tersebut membuat para arkeolog mengambil kesimpuan mestinya ada ruangan pemakaman utama. Karena itu mereka menggali lagi dan menemukan sebuah  tempat sejauh 5 meter dari situ, yang diatapi dengan 17 balok paralel untuk menahan beban dari atas. Untuk menjaga sebuah peti mayat dari kayu mereka menempatkan ke delapan sisinya dari metal yang membatasi ruangan seukuran 2,20 meter kali 1,25 meter. Dalam ruangan sebesar itu para arkeolog tercengang karena menemukan sebuah kerangka manusia yang dipenuhi dengan emas. Saat menemukan kerangka tersebut para arkeolog menyebut penemuan ini sebagai Señor de Sipan (Tuan dari Sipan). Dari ruangan ini ditemukan berbagai benda purbakala penting antara lain: dua jenis anting besar di telinga yang terbuat dari emas dan batu mulia berwarna biru; tiga tombak tajam dan piring yang terbuat  dari perak yang terletak di bagian tengah kerangkan, juga ditemukan sebuah batangan terbuat dari emas seluruhnya; sendal yang terbuat dari perak yang menutup kaki mayat; ikatan yang menutupi mayat sudah terbuka terbuat dari kain katún yang dihiasi oleh hiasan perak berwarna, dan di sekitar ikatan ini ditemukan banyak kerang yang berdasarkan penelitian berasal dari Teluk Guayaquil (Ekuador); sementara di bagian kepala ditemukan dua mata terbuat dari batu mulia warna biru dan hidung dan pelindung wajah yang terbuat dari emas; dibagian dada terdapat hiasan dari butiran manik berwarna merah, putih dan kuning, hiasan manik ini juga terdapat di bagian tubuh yang lainnya seperti kaki; gelang yang terbuat dari manik dan batu mulia biru; di atas dadanya terdapat 20 biji kacang yang terbuat dari metal, 10 butiran kacang di sebelah kanan dada terbuat dari emas sedangkan 10nya lagi yang terletak di sebelah kiri terbuat dari perak; sebuah batangan emas berada di sebelah kanan kerangka dan sebuah batangan perak di sebelah kiri; ada 16 piringan cekung dari emas yang ada persis di atas dada; dibagian tenggorokan ditemukan sebuah lapisan penjaga leher (collar) yang dihiasi dengan emas, dan dibagian bawah perut terdapat sebuah pisau dari emas yang terletak di sebelah kanan dan sebuah pisau dari perak di sebelah kiri; tulang-tulang Señor de Sipan ini berserakan tidak teratur lagi;  di bagian bawah kerangka terdapat sebuah mahkota seperti bulan sabit yang terbuat dari emas, panjangnya 62 cm dan lebarnya 42 cm dan dibagian atasnya terdapat ikon yang berhubungan dengan orang yang paling berkuasa dari Suku Moche; di bawah kerangka tersebut juga ditemukan dua lonceng terbuat dari emas dengan gambar mitologi “El Degollador” (Si Pembantai); ditemukan juga dua buah pelindung pinggang satu terbuat dari emas yang panjangnya 45 cm dengan berat 790 gram dan satu lagi dari perak dengan ukuran yang sama. 


Señor de Sipan yang  berumur 35 tahun ini tidak dikuburkan sendirian. Dia ditemani oleh dua orang perempuan muda yang baru saja berumur 20 tahun, yang diprediksikan istri atau dayangnya, dan kedua perempuan muda ini diprediksikan dikubur hidup-hidup. Selain itu ditemukan juga dua kerangkan laki-laki, satu di antaranya diperkirakan sebagai seorang pengawal (guerero) yang dikedua kakinya terdapat kerangka seekor anjing. Lebih jauh dari Señor de Sipan ditemukan juga kerangka seorang perempuan, seorang anak berumur 10 tahun dan dua kerangka binatang llama (sejenis unta kecil di pegunungan Andes). Di sekitar ruangan Señor de Sipan ini ditemukan 212 keramik yang berisi makanan yakni “makanan untuk masa depan”.
 

Di sebelah selatan piramid para arkeolog menemukan juga sebuah ruangan makam yang tidak pernah disentuh, dengan kedalaman 6 meter, dan lebih kecil daripada ruang makam Señor de Sipan. Di sini ditemukan sebuah kerangka manusia dengan 54 jenis barang lainnya yang terbuat dari emas, perak dan batu mulia. Kerangka manusia di makam ini diberi nama oleh para arkeolog sebagai Señor de Sipan Tua. Temuan yang paling mencengangkan dari makam ini adalah 10 penutup leher yang terbuat dari emas berbentuk labah-labah, 10 penutup leher terbuat dari emas berlukiskan kucing, 10 anting besar dari emas dan berbagai bentuk pelindung hidung dari emas.  Señor de Sipan Tua ini dikuburkan dengan seorang perempuan muda dan seekor llama. Hasil penelitian para arkeolog Señor de Sipan Tua ini merupakan dua atau tiga generasi sebelum Señor de Sipan. 

Penemuan makam di Sipan ini membawa kembali saya ke abad-abad 7 atau 8 SM. Mengelilingi museum yang begitu indah, rapih dan jelas ini selama hampir satu setengah jam dari lantai 3 ke lantai 1 tidak terasa. Turis-turis dari mancanegara berkeliaran dalam museum ini mengagumi berbagai temuan yang terbuat dari emas, perak dan batu mulia, yang harganya tidak bisa dibayangkan. Hal yang paling penting dari penemuan makam di Sipan ini sebenarnya adalah bagaimana menemukan kembali situasi kehidupan masyarakat Suku Moche zaman Pre-Inca.  Karena penemuan inisangat penting untuk diteliti maka Señor de Sipan ini dibawa ke beberapa tempat untuk diteliti dan dibangun kembali kerangkanya yang sudah mulai rusak supaya bertahan. Antara lain pernah di bawa ke Jerman dan Amerika Serikat di beberapa museum untuk dikenalkan dan diteliti. Lalu semua peninggalan dan kerangka Señor de Sipan ini disimpan kembali dalam sebuah museum yang dibangun secara khusus yakni Museum Makam Raja Sipan yang sekarang saya kunjungi ini. Museum ini didirikan tahun 2002. 
Setelah mengelilingi dan mendengar penjelasan dari guide tentang semuanya ini akhirnya saya tiba di pintu keluar. Di pintu keluar polisi dengan alat detektor siap mendeteksi saya. Setelah itu saya kembali ke ruangan di mana tas dan pasport saya ditinggalkan. Tepat jam satu siang saya keluar dari museum ini. Panasnya wilayah ini membuat saya segera mencari tempat berteduh sambil mencari makan siang. Karena wilayah museum ini adalah wilayah para petani maka untuk menemukan restoran yang lumayan bersih dan bagus saya harus berjalan kaki kurang lebih sekilo, menuju jalan raya besar ke kota Chiclayo. Dekat jalan raya besar ini terdapat restoran-restoran yang bersih dan sehat.


Setelah makan siang saya langsung kembali ke Plaza de Armas Chiclayo. Di Plaza de Armas ini saya tidur siang di kursi taman kurang lebih setengah jam. Di sini tidur siang di taman kota merupakan hal yang biasa. Setelah itu saya mengelilingi Plaza de Armas dan masuk ke Katedral Chiclayo untuk berdoa sebentar. Suasana Katedral yang sejuk di tengah panasnya Chiclayo membuat suasana hening untuk berdoa semakin kusuk. Kurang lebih jam empat sore saya kembali ke stasiun bus untuk meneruskan perjalanan saya lewat darat menuju daerah hutan Amazon, Tarapoto dan Yurimaguas. 

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons