Wednesday, 6 February 2013

DARI TERORIS, MILITER, BIARAWAN FRANSISKAN DAN AKHIRNYA SEORANG ANTROPOLOG


Seorang antropolog Peru, Lurgio Gavilán (39 tahun) menulis buku tentang perjalanan hidupnya, dari seorang anggota teroris Sendero Luminoso, kemudian masuk Anggota Militer Peru, kemudian Biarawan Fransiskan, lalu akhirnya menjadi Dosen / Antropolog yang ingin kembali menjadi petani di mana dia lahir. 


Lurgio lahir di sebuah kampung di daerah Ayacucho di daerah pegunungan di mana Sendero Luminoso berkembang dan bersarang tahun. Daerah ini menjadi ajang aksi kekerasan. Saat dia masih kecil tahun 1983 dia masuk menjadi anggota kelompok teroris Sendero Luminoso, setelah kakaknya menjadi anggota kelompok tersebut. Dalam sebuah pertempuran dengan militer Peru dia satu-satunya yang masih hidup yang ditangkap oleh militer Peru. “Mereka memaafkan saya dan membiarkan saya hidup karena saya masih anak, kurus kerempeng, dan kekurangan gisi”, kata Lurgio saat diwawancara sebuah koran di Mexico. Kejadian itu terjadi saat pemerintahan Fernando Belaúnde, saat di mana konflik antara pemerintah dan Sendero Luminoso menimbulkan aksi kekerasan di mana-mana  berdasarkan info dari Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. Setelah ditangkap militer Peru membawanya ke kamp militer yang pada awalnya diperlakukan sebagai tawanan, kemudian setelah umurnya pas untuk masuk militer langsung diikutkan sebagai militer dan bekerja di militer Peru selama dua tahun sampai akhirnya mendapat pangkat sersan mayor. “Dulu saya mencari militer dan saat jadi militer saya mencari Sendero Luminoso”, kata Lurgio.


Saat dalam militer, sedikit demi sedikit dia beradaptasi untuk berubah dan sedikit demisedikit belajar. Dia menyukai militer karena bisa belajar. “Saya mengambil masa-masa militer ini sebagai bagian dari kehidupan saya, dan saya tidak merasa sebagai sesuatu yang sangat sulit. Saya menjalankan hidup saya dengan bahagia, barangkali karena sejak kecil sebagai orang Quechua, petani dan miskin sudah terbiasa menikmati hidup apa adanya”. Pada saat menjadi militer, Lurgio merasa biasa-biasa saja dan sedikit lebih baik, karena ketika menjadi anggota militer mereka sangat miskin tetapi ada biskuit untuk makan dan ada pakaian untuk dipakai. 
Saat dia menjalankan patroli militer, dia bertemu dengan beberapa biarawan/wati dari Gereja Katolik. Para pastor dan suster ini membawa komuni kudus bagi para petani di kampung-kampung. Saat bertemu dengan Lurgio mereka mendorongnya supaya menjadi pastor supaya bisa “berbuat baik bagi yang lain dengan lebih baik”. Karena itu dia meninggalkan pekerjaannya sebagai militer kemudian masuk biara Fransiskan. Saat menjadi anggota biara Fransiskan mereka tidak mempertanyakan latar belakang atau sejarah hidupnya. Dari situ dia belajar di Institut Fransiskan di Lima dan melewati setahun hidupnya di Biara Fransiskan di Puerto Ocopa (daerah hutan Peru), di mana Sendero Luminoso berada bersama etnis Asháninka. Saat-saat hening dalam biara dia gunakan untuk merenung kembali hidupnya. Tahun 1996 dan 1998 dia mulai menulis sejarah hidupnya karena permintaan orang lain. 


Setelah empat tahun menjalankan hidup sebagai  biarawan fransiskan dia memutuskan untuk menjadi awam. Tahun 2000 dia mulai belajar Antropologi di Universitas San Cristobál di Huamanga di Ayacucho. Setelah itu dia menjadi dosen dan mengajar di universitas yang sama selama dua tahun. Dari sana dia lalu dikirim untuk belajar di Mexico. Para mahasiswa yang diajarinya tidak mengenal dia sebagai anggota Sendero Luminoso. Dia takut kalau dia dicap sebagai pengikut Sendero Luminoso. 

Buku yang ditulisnya dengan judul “Memoria de un soldado desconocido” (Memori seorang serdadu yang tidak dikenal) tidak dipublikasikan di Peru karena ketakutannya bahwa dia akan dicap sebagai pengikut Sendero Luminoso ataupun sebaliknya. Dalam bukunya itu juga dia mengganti nama-nama semua orang yang dikenalnya dan juga nama-nama tempat tertentu demi keselamatan dirinya dan teman-temannya. 


Buku autobiografi ini sangat penting bagi masyarakat Peru, untuk melihat bagaimana situasi kekerasan yang dihadapi seorang anak manusia di Peru. Lurgio sendiri menolak untuk menyatakan mana yang benar Sendero Luminoso atau militer. Dia mengisahkan bahwa “Suatu saat di Aranguay, Sendero Luminoso mengikat seerong perempuan petani dengan tali, lalu mereka menyeretnya ke pusat kampung dan saat tiba di sana dia sudah meninggal. Mereka bilang mereka berjuang untuk orang yang paling miskin tetapi mereka mengikat orang miskin dan bahkan membunuhnya? Binatang saja tidak berperilaku seperti itu!”.

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons