Sunday, 12 August 2012

BRASIL: DILMA ROUSSEFF DAN AKSI ANTI-KORUPSINYA


Presiden Brasil, Dilma Rousseff, bisa dikritik tetapi bukan karena kurang integritas. Perempuan revolusioner ini pernah mengalami kejamnya diktator militer Brasil tahun 1970-an dan pernah keluar penjara dalam keadaan terluka.  Dan begitu demokrasi mulai berkembang di Brasil, dia mulai dengan sebuah karir politik di mana taktik-taktik politiknya bisa berubah tetapi misinya tidak pernah berubah. 


Dilma Rousseff melekat dengan identitas sebagai seorang perempuan yang tidak korup. Beberapa bulan setelah menjadi Presiden Brasil, dia memecat 6 menteri setelah ketahuan terlibat korupsi yang mengambil kesempatan karena jabatan sebagai menteri untuk mendapatkan beberapa keuntungan. Itulah sebabnya banyak orang mengatakan bahwa keputusannya menggantikan 6 menteri sebagai “pengadilan terbesar abad ini”, karena banyaknya skandal korupsi dalam 20 tahun terakhir di Brasil, yang bisa saja juga membawa Luis Inácio da Silva, mantan presiden Brasil yang sangat popular yang digantinya.

Adalah mungkin sekali bahwa revolusi yang dibangun oleh Dilma bisa saja sebuah karya yang membawanya ke sebuah politik masa depan bagi dirinya sendiri. Namun demikian semangat anti-korupsi yang dimiliki Dilma membuat Brasil semakin baik. Dan bukan hanya Brasil tetapi juga seluruh Amerika Latin. 

Skandal yang dikenal sebagai mensalão ditemukan untuk pertama kalinya tahun 2005, ketika Lulo da Silva masih sebagai Presiden. Tahun 2007 masalah ini di bawa ke Pengadilan Tinggi tetapi tidak ada kelanjutannya. Sekarang ini baru masalah ini mulai dilihat kembali oleh para hakim. Mereka yang dituduh terlibat adalah mantan-mantan petinggi Partai Buruh (PT) sebanyak 38 orang, dimulai dengan Kepala Kabinet Lula, José Dirceu, yang dituduh terlibat korupsi, pencucian uang dan konspirasi gelap lainnya.  

Kejahatan yang dilakukan dalam skandal ini tidak kecil. Tidak lama setelah Lula menjadi Presiden tahun 2002, Partai Buruh mulai membelokkan uang yang direncanakan untuk kepentingan publik dan dana pensiun bagi perusahaan-perusahaan negara. Uang tersebut kemudian digunakan untuk membayar gaji bulanan para anggota DPR dan Senat dengan tujuan supaya DPR dan Senat mendukung proyek-proyek yang dibuat oleh pemerintah. 

Di beberapa negara di Amerika Latin, skandal seperti ini sudah bisa membuat pemerintahan yang sedang berjalan bisa turun. Tetapi di Brasil itu tidak terjadi. Ketika skandal ini muncul, ada suara untuk menjatuhkan Lula secara konstitusional. Tetapi Lula meminta maaf atas aksi partainya dan menggantikan kepala kabinet dengan orang yang dipercayai banyak kalangan sebagai orang bersih, sehingga ia terpilih kembali tahun 2006 dengan suara yang lebih banyak lagi. 
Ketenaran karena aksi korupsi bukan merupakan halangan untuk berkarir dalam bidang politik di Brasil.  Presiden Fernando Collor de Melho misalnya diberhentikan dari jabatannya tahun 1992 karena kasus korupsi. Tetapi sekarang sudah kembali ke kancah politik dan dipilih sebagai anggota Senat. Mantan gubernur Sao Paulo, Paulo Maluf, yang masih diperiksa karena terlibat dalam jaringan suap saat menjadi gubernur, juga dipilih menjadi anggota DPR beberapa waktu lalu. Demikian juga Lula da Silva, yang juga barangkali sudah terlibat dalam skandal mensalão, juga dipilih setahun setelah skandalnya terkuak, dan saat menyelesaikan jabatannya sebagai presiden mendapat pujian dari hampir sebagian besar masyarakat Brasil.


Situasi inilah yang membuat banyak pengamat heran akan Dilma. Karena sidang pengadilan korupsi yang melibatkan partainya akan merusak partainya. Dan ini bisa saja mengurangi suara dalam pemilihan di pemerintah daerah pada bulan Oktober nanti. Apakah Dilma begitu sempurnanya sehingga mengorbankan partainya sendiri dan bahkan mengorbankan Lula?

Barang kali saja demikian. Lula dipilih menjadi Presiden Brasil saat di mana perkembangan ekonomi tertinggi terjadi dalam sejarah Brasil. Dalam masa pemerintahannya, 35 juta orang Brasil keluar dari jurang kemiskinan. Dalam situasi seperti itu adalah mudah sekali untuk memaafkan Lula yang melakukan korupsi, apalagi di Brasil di mana politikus korup bisa memiliki karir politik yang cemerlang. 

Brasil yang dipimpin oleh Dilma sudah berbeda, dan tidak berkembang lagi seperti zaman Lula. Perkembangan ekonomi tahun lalu hanya 2,5% dan dalam triwulan pertama tahun ini mengalami perkembangan sebesar 0,8%. Dilma bisa saja berpikir untuk “dipilih kembali”. Aksi membersihkan kabinetnya dari para koruptor membuat popularitasnya tinggi mencapai 77% walaupun tingkat perkembangan ekonomi tidak tinggi. Adalah mungkin sekali revolusi yang dibuat oleh Dilma memiliki tendensi karir politiknya di masa depan. Tetapi aksinya untuk membersihkan kabinet dari para koruptor merupakan aksi yang mendapat pujian baik dari masyarakat maupun dari dunia internasional. 

Bagaimana dengan korupsi di Indonesia? Harap bisa belajar banyak dari Dilma Rousseff!!

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons