Tuesday, 7 February 2012

SUKU INCA (3) : MENELUSURI MACHU PICCHU

Udara dingin Cusco dengan ketinggian 3.360 meter di atas permukaan laut membuat tidur malam terasa memuaskan. Bunyi alarm hp, jam 4.30 pagi membuat saya harus bangun dari tempat tidur, untuk bersiap-siap menapaki indahnya Machu Picchu hari ini. Menapaki Machu Picchu itulah keinginan terbesar datang ke Cusco. Orang Peru selalu mengatakan, “Anda belum ke Peru kalau belum mengunjungi Machu Picchu”. Mandi pagi air dingin membuat segar, walaupun kepala masih pusing karena kurangnya oksigen akibat ketinggian Cusco.



Setelah semuanya beres, saya menuju ruang makan. Teman seperjalanan saya Padre John ternyata sudah menanti. Nampaknya semangat untuk menapakkan kaki di Machu Picchu membuatnya bangun lebih cepat. Cerita-cerita lucu masa kecil di Flores menjadi santapan kami pagi ini sambil menikmati teh mate de coca untuk menghilangkan rasa pusing. Teh mate de coca adalah teh yang terbuat dari daun kokain. Teh ini adalah teh tradisional orang Inca ribuan tahun lalu, yang sangat bagus digunakan untuk menghilangkan pusing kalau berada di ketinggian atau karena kekurangan oksigen. Katanya teh mate de coca ini bisa memperlancar pencernaan akibat kekurangan oksigen di perut, sehingga seseorang tidak merasa pusing atau mual untuk muntah lagi.


Jam 5 pagi, mobil jemputan sudah datang untuk membawa kami menuju Ollantaytambo. Lika-liku jalan raya menuju Ollantaytambo membuat kami tidak bisa duduk tenang dan tidur. Percakapan dengan pengemudi yang bertanya banyak tentang Indonesia membuat perjalanan itu tidak terasa. Dataran tinggi Cusco yang dipenuhi rumput kering berwarna kuning, diselingi bunga-bunga rumput yang berwarna warni menjadi pemandangan yang indah di pagi hari. Dikejauhan bisa menikmati indahnya puncak-puncak gunung bersalju yang mendapat terang sinar mentari pagi menjadi pemandangan yang sulit untuk disaksikan kalau kita di Indonesia.


Jam 7.45 pagi akhirnya kami tiba di Stasiun Inca Trail Ollantaytambo. Hiruk pikuk para turis yang lagi bergegas menuju pintu masuk stasiun mewarnai tempat parkir stasiun ini. Setelah berpisah dengan pengemudi kami langsung menuju pintu stasiun. Di pintu stasiun antrian para turis untuk masuk stasiun sudah berjubel. Di sini saya rasakan bahwa ini bukan Peru lagi. Bahasa yang digunakan dari berbagai penjuru dunia ada di sini. Mulai dari Mandarin, Jepang, Indonesia, Prancis, Inggris, Italia, Spanyol bercampur baur semuanya. Nampaknya stasiun ini seperti “aldea global” (kampung global) dengan tujuan utama Machu Picchu.


Setelah menanti kurang lebih 15 menit, akhirnya kami diijinkan masuk ke Stasiun Inca Trail. Stasiun Inca Trail adalah sebuah stasiun kereta api yang khusus didesain bagi para turis menuju ke Aguas Calientes. Jaringan rel Inca Trail merupakan rel kereta api yang paling tinggi di dunia dengan ketinggian 2.300 meter di atas permukaan laut. Suatu kebahagian tersendiri menikmati perjalanan dengan Inca Trail ini.


Stasiun yang terletak di pinggir Sungai Urubamba dan diapit oleh dua tebing tinggi di kiri kanan sungai membuat tempat ini eksotik dan khas. Ratusan bahkan ribuan orang berlalu lalang di stasiun internasional ini. Akhirnya kereta yang akan mengangkut kami tiba. Di pintu masuk sambutan khas pramugari kereta dalam Bahasa Spanyol mengantar kami menuju tempat duduk masing-masing. Saya dan Pater John masing-masing mengambil tempat duduk di dekat pintu supaya bisa melihat pemandangan dengan baik. Kereta Inca Trail adalah kereta khusus yang didesain untuk melihat pemandangan alam menuju Machu Picchu. Keretanya sangat bersih dan rapih. Jendelanya terbuat dari kaca sehingga bisa melihat keluar dengan jelas. Demikian juga atapnya terbuat dari kaca sehingga orang bisa melihat tebing-tebing curam selama perjalanan dengan baik. Menurut cerita salah satu guide di dalam kereta tersebut, biasanya ada hari-hari tertentu di mana di dalam kereta yang besar dan luks ini disajikan tarian dan nyanyian khas dari suku bangsa Inca Cusco.


Dalam kereta ini, secara kebetulan saya dan Pater John berkenalan dengan lima orang muda dari Asia (China, Taiwan, Hongkong, Malaysia dan Indonesia) yang bekerja di sebuah kantor berita di Amerika Serikat. Mereka lagi mendapat jatah liburan dari perusahaannya dan mereka memilih untuk ke Amerika Latin yakni Machu Picchu. Menyenangkan juga bisa bertemu dengan sesama Indonesia di aldea global Inca Trail. Dominasi turis asal Asia dan Amerika Serikat sangat nampak sekali dari bahasa-bahasa yang digunakan. Yang mengherankan saya adalah seorang perempuan cantik dari Jepang menjadi turis guide di sini. Nampaknya kesulitan untuk berbicara Bahasa Jepang menjadikannya tour guide spesial ke Cusco. Dia sangat antusias bisa berada bersama dengan kami sekelompok turis dari Asia. Kami bisa mengerti sedikit perjalanan kami dengan bantuannya yang sudah berkali-kali menemani para turis dari Jepang ke tempat ini.


Perjalanan Kereta Inca Trail ini tidak secepat kereta normal, karena para turis ingin menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Pemandangan Sungai Urubamba yang jernih dan lebar, dengan tanaman-tanaman pertanian khas Inca di sekitar sungai, serta tebing-tebing curam yang diselingi oleh beberapa situs arkeologi Inca kuno membuat perjalanan yang lumayan lama ini menarik. Di perjalanan ini kereta berhenti di beberapa tempat untuk menurunkan para turis yang ingin menelusuri “caminos del inca” (jalan setapak Inca) menuju Machu Picchu. Gerombolan pejalan kaki yang melewat tebing-tebing curam merupakan sebuah tantangan yang menarik bagi para backpackers yang ingin ke Machu Pichu dengan jalan kaki. Bagi mereka yang takut ketinggian dan susah jalan tidak dianjurkan untuk jalan kaki karena jalan-jalannya yang terjal, curam dan sempit sangat berbahaya bagi para turis.


Lembah Urubamba yang dilalui oleh Inca Trail terletak kurang lebih 2300 meter di atas permukaa laut. Ini menyebabkan kita tidak merasa pusing lagi karena konsentrasi oksigen lumayan banyak di wilayah ini. Kalau di Cusco merasa pusing, sepanjang perjalanan ke Aguas Calientes dalam Inca Trail terasa segar.


Setelah dua jam lebih perjalanan akhirnya kami tiba di Aguas Calientes. Para guide dengan benderanya masing-masing sudah menunggu kami. Kali ini kami mengikuti guide berbendera oranye yang berbahasa Inggris. Karena masih menunggu kelompok turis lain akhirnya kami diberi kesempatan untuk berjalan-jalan sebentar sambil mencari makan pagi. Apalagi di Machu Picchu sendiri, harga makanan mahal, sebaiknya makan dulu baru ke Machu Picchu. Di pintu keluar stasiun bisa ditemukan ratusan toko yang menjual cindera mata dan berbagai macam restoran. Restoran yang masih sepi pengunjung karena belum jam makan siang membuat kami menjadi tamu pertama pengunjung restoran. Setelah makan kami bertemu guide kami yang sudah lama menanti kami karena teman-teman turis lainnya sudah tiba. Dari pasar souvenir kami menuju tempat bus yang akan membawa kami menuju Puncak Machu Picchu.
Aguas Calientes adalah sebuah tempat yang unik. Terletak di ujung Lembah Urubamba diapiti oleh tebing-tebing gunung tinggi yang curam. Di sini terdapat penginapan dan hotel untuk para turis. Di sini persis sebuah aldea global, semua orang dari penjuru bumi berkumpul sebelum menuju Machu Picchu. Aguas Calientes sendiri berarti air panas. Disebut Aguas Calientes karena di sini terdapat aliran sungai dan permandian air panas. Letaknya yang unik, indah dengan iklim yang segar membuat tempat ini nyaman untuk dilewati.


Dari Aguas Calientes kami menggunakan bus yang dipersiapkan secara khusus untuk menuju Machu Picchu. Sebenarnya untuk menuju Machu Picchu bisa juga dengan jalan kaki, hanya butuh waktu cukup lama untuk sampai di puncak. Jalan yang berlika-liku di tengah lebatnya hutan dengan tebing yang curam merupakan sebuah pengalaman yang menarik. Setelah melewati 14 jalan zig-zig yang menebarkan dan menantang akhirnya kami tiba di pintu masuk Machu Picchu. Di pintu masuk Machu Picchu ribuan turis (sekarang ini sudah dibatasi hanya 2000 orang turis yang diijinkan masuk Machu Picchu tiap harinya) lalu lalang, ada yang masuk dan ada yang keluar.


Setelah bertemu kembali dengan guide, kami akhirnya masuk ke Machu Picchu. Jalanan yang sempit dan menukik tajam membuat para turis harus ekstra hati-hati menuju tempat ini. Sebaiknya menggunakan sepatu kets. Saat kami memasuki Machu Picchu tour guide kami mengatakan bahwa kami beruntung bahwa kami bisa menikmati indahnya Machu Picchu dengan baik, karena tidak hujan dan hutan-hutan di sekelilingnya belum dipenuhi awan atau kabut.


Melihat Machu Picchu dari TV atau foto sangat berbeda ketika melihat dan mengalaminya secara langsung. Perjuangan menuju puncak Machu Picchu sendiri yang dilakukan oleh para turis khususnya mereka yang sudah tua terasa tidak berarti ketika tiba di perhentian pertama, di mana foto Machu Pichu yang terkenal di seluruh dunia itu diambil. Keindahan Machu Picchu tidak hanya terletak pada bayangan bangunan tua (arkeologi) yang dibuat bangsa Inca tetapi lebih-lebih pada letaknya yang luar biasa. Di tengah-tengah gunung tinggi dengan hutannya yang luar biasa berdirilah Machu Picchu, serasa kita berada di puncaknya dunia ini. Keindahan alam di sekitarnya yang tiada bandingannya membuat Machu Picchu menjadi kenangan seumur hidup bagi para turis yang menapakinya.


Di perhentian pertama ini kami semua diberi kesempatan untuk mengambil foto kenangan. Semua orang berlomba-lomba untuk mengambil foto di tempat ini. Saya dan Pater John juga hanya bisa tercengang bahwa kerinduan untuk menginjakkan kaki di Machu Picchu tercapai sudah. Moment-moment penting ini sebaiknya direkam, walaupun momen yang terpenting ada dalam pengalaman yang susah dikatakan. Tidak ada kata lain yang bisa diucapkan selain “AMAZING”. Para turis semuanya beraksi untuk mengambil foto terbaik supaya bisa menjadi kenangan bagi dirinya masing-masing. Kurang lebih ada 900.000 turis internasional yang mengunjungi tempat ini setiap tahunnya, belum terhitung turis. Sekarang ini pihak pengelolah tempat ini berrencana untuk mengurangi jumlah pengunjung setiap harinya menjadi hanya 2000 orang, supaya situs arkeologi ini tetap terjaga.
Selain pemandangannya yang unik, susunan batu-batu baik kecil maupun besar, yang tertata rapih di atas puncak gunung yang indah ini melahirkan rasa euforia dan mistis tersendiri. Pilihan tempat yang sulit tetapi indah membuat kota yang dibangun ini sulit ditemukan atau sulit untuk dikuasai para penjajah Spanyol selain oleh mereka yang membangunnya sendiri. Arsitektur bangunan yang ditata seirama dengan bentuk alam membuat Machu Picchu memang “SPESIAL”. Sistem irigasi yang mereka bangun susah untuk dibayangkan. Di puncak gunung seperti Machu Picchu air mengalir tiada henti-hentinya.


Machu Picchu adalah Bahasa Quechua (baca: kechua) yang berarti Gunung Tua. Di Gunung Tua inilah Pachacutec, Raja Inca, membangun tempat istirahat dan ibadahnya untuk menyembah dewa-dewa, matahari dan gunung.


Setelah puas mengambil foto kami disuruh duduk untuk beristirahat sambil membayangkan bagaimana indahnya Machu Picchu seandainya semua bangunannya ada. Saat ini kami mendengarkan penjelasan guide tentang apa saja mengenai Machu Picchu. Areal arkeologi Machu Picchu memiliki panjang 530 meter dan lebar 200 meter. Di dalamnya terdapat kurang lebih 172 ruangan. Wilayah ini sendiri terdiri dari 2 bagian yakni bagian pertanian yang terdiri dari teras pertanian yang berada di bagian selatan, dan daerah perumahan di mana mereka tinggal dan melakukan kegiatan sipil dan religius mereka. Kedua tempat ini dipisahkan oleh sebuah tembok, parit dan jalanan bertangga di tengah zona ini. Beberapa bagian dari reruntuhan yang bisa kita lihat sekarang ini sebenarnya bangunan yang direkonstruksi kembali, yang dikembangkan berdasarkan foto yang diambil tahun 1911.


Di zona pertanian bisa kita temukan terasering panjang yang disusun di atas batu. Bentuk terasering yang dibuat dari tembok batu yang kemudian diisi dengan berbagai material yang bisa menahan aliran air sehingga air tidak meresap keluar dari zona pertanian. Orang-orang Inca masih menggunakan metode yang sama untuk pertanian seperti ini sampai abad XX. Di hampir semua bagian luar Machu Picchu terdapat teras seperti ini, namun teras ini dibangun sebagai tembok penahan, melihat kecuraman yang dimiliki tempat ini. Di bagian ini terdapat bangunan yang digunakan sebagai gudang untuk menyimpan hasil pertanian.


Zona Perumahan: Zona perumahan dipisahkan dari zona pertanian oleh sebuah dinding sepanjang 400 meter. Sepanjang dinding ini terdapat aliran air utama untuk tempat ini. Di bagian puncak dinding ini terdapat Pintu Masuk Machu Picchu yang didesain dengan mekanisme tutupan internal. Zona perumahan ini dibagi dalam beberapa bagian yakni sektor hanan (atas) dan hurin (bawah) yang mereka bagi berdasarkan partisipasi sosial dalam hirarki masyarakat Inca. Pembagian ini dipisahkan oleh sebuah plaza (tanah lapang) yang panjang, yang dibangun di atas sebuah teras dalam berbagai level berdasarkan struktur tanah pegunungan ini.


Bila dilihat dari ketinggian Zona Agricola jalan-jalan di wilayah arkeologi ini membentuk sebuah salib, jalan-jalan dari timur ke barat dan tangga-tangga serta aliran air dari utara dan selatan membentuk salib di tengah kota tua ini. Di persimpangan salib ini terdapat perumahan Inca, kuil menara observatorium (untuk melihat angkasa luar: bisa dibandingkan dengan observatorium caracol bangsa Maya) dan tempat penampungan pertama sumber air.
Setelah menelusuri zona pertanian kami menelusuri zona perumahan. Setelah melewati pintu utama masuk zona perumahan di sini kita bisa saksikan area bagian depan wilayah perumahan sederet dengan tembok. Ada 64 kandang yang disediakan untuk binatang llama, tempat pertemuan, dapur dan kamar tidur.


Salah satu bangunan yang paling penting di daerah perumahan ini adalah Menara Templo del Sol (MenaraTempat Pemujaan kepada Matahari). Di sini dirayakan perayaan yang berhubungan dengan peredaran matahari seperti perpindahan posisi matahari dari utara ke selatan biasanya bulan Juni. Di Cusco khususnya di Sacsayhuaman dirayakan Perayaan Inti Raymi (Pemujaan kepada Dewa Matahari, yang pada tahun ini akan diadakan pada tanggal 24 Juni 2012). Salah satu jendela menara ini menggambarkan sejarah Machu Picchu yang sudah sulit dibaca karena sudah hancur. Di sini ditemukan juga tempat perapian besar yang mungkin sebagai bagian dari pemujaan. Menara ini sendiri dibangun di atas sebuah batu besar yang dibawahnya terdapat sebuah gua kecil yang sudah ditutup dengan batu-batu yang sangat halus. Diprediksikan bahwa di tempat ini ditempatkan mumi dari para penguasa tempat ini. Masih perlu dipastikan apakah di sini dimakamkan Pachacutec yang menurut orang Inca berada di sini sampai setelah hancurnya Cuzco oleh Penjajah Spanyol.
Selain itu di sini terdapat Perumahan Raja di mana Pachacutec dan keluarganya tinggal. Ini merupakan perumahan yang paling halus, besar dan menempati sebagian besar zona perumahan ini. Di sini terdapat dua ruangan besar yang rapih. Salah satu kamarnya memiliki akses ke kamar kecil tempat aliran air. Di sini juga terdapat kandang untuk binatang llama dan sebuah teras pribadi untuk melihat pemandangan ke arah timur kota ini.
Di zona ini juga terdapat serangkaian rumah bangunan untuk upacara keagamaan di mana masing-masing ritual dilaksanakan. Di sini terdapat dua bangunan penting yang disebut Tempat Ibadah Tiga Jendela dan Rumah Ibadat Utama. Di bagian belakang tempat ibadah ini terdapat rumah untuk para imam dan tempat peralatan ibadah. Ada tanda-tanda bahwa tempat-tempat ibadah ini belum selesai dibangun semuanya.


Di wilayah perumahan ini juga terdapat sebuah tempat yang disebut Intihuatana (dimana matahari terikat). Ini adalah bukit yang merupakan bagian bawah dari sebuah bangunan piramida. Dua tangga di bagian utara dan selatan sangat menarik karena diukir di atas sebuah batu saja. Di bagian paling atasnya terdapat batu intihuatana, yang merupakan obyek yang paling banyak dipelajari di Machu Picchu. Banyak orang mempercayai tempat ini sebagai tempat suci yang mengaitkan peristiwa astronomi dan lingkungan di sekitar Machu Picchu. Di sini kami disuruh untuk merasakan semacam aliran tenaga prana yang dialirkan dari batu ini. Sama seperti di Piramida Teotihuacan di Mexico, di Piramida del Sol tepat jam 12 siang orang berebutan untuk merasakan kekuatan tenaga magnet matahari di puncaknya.


Sektor Urin (bawah) merupakan bagian paling utara dari kota Machu Picchu dan dari sini terdapat jalan menuju Huayna Picchu (Gunung Kota Muda). Di sini juga terdapat batu suci menurut kepercayaan Inca. Di sektor Urin ini terdapat tiga bangunan berbentuk simetris untuk memudahkan komunikasi antara mereka. Pintu-pintunya diarahkan menuju Tanah Lapang Utama Machu Picchu. Di sini juga terdapat tempat tinggal dan tempat kerja. Bagian yang terbesar dari sektor ini adalah bangunan yang hanya mempunya satu pintu masuk yang mereka Acllahuasi (rumah bagi para perempuan terpilih) di Machu Picchu yang mendedikasikan diri mereka untuk pelayanan religius dan keindahan murni. Di sini tersusun batu-batu melingkar, yang menurut banyak ahli, tempat ini dipenuhi dengan air dan dari pantulan bayangan di air ini mereka bisa melihat susunan bintang di langit. Di sini terdapat juga bukti-bukti adanya upacara ritus karena ditemukan adanya altar di sekitar batu besar di dalamnya. Di sekitar tempat ini diperkirakan tempat tinggal kaum bangsawan. Di daerah ini juga terdapat bangunan batu yang berbentuk elang (condor). Di sini juga terdapat tempat pemujaan dan di sekililingnya merupakan tempat tinggal para bangsawan.
Selain itu di bagian atas, bagian timur setelah pintu masuk zona perumahan terdapat rumah untuk kerajinan dan pekerjaan-pekerjaan penting lainnya. Di sini ditemukan beberapa bukti pembuatan keramik dan perhiasan penting lainnya untuk kebutuhan ibadat mereka.


Selama kurang lebih 2 setengah jam kami menelusuri semua tempat-tempat penting Machu Picchu. Jalanan yang sempit, berbatu dan curam membuat para turis harus berhati-hati menelusuri tempat ini. Setelah mengikuti petunjuk guide kami beristiraha sebentar. Setelah beristirahat sebentar kami keluar Machu Picchu sebentar untuk minum teh atau kopi sore hari. Nampaknya semua restoran di tutup setelah jam tiga sore jadi kami tidak sempat minum. Di sini saya bertemu lagi dengan para turis dari Asia. Mereka akan bermalam di Aguas Calientes. Pagi-pagi hari berikutnya mereka akan menuju Huayna Picchu. Di tempat ini juga terdapat reruntuhan bangsa Inca. Namun daerah ini hanya bisa dikunjungi oleh 200 orang turis setiap harinya mengingat tempat menuju ke sana sangat sulit dan sempit serta curam. Orang yang susah jalan dan takut ketinggian diminta untuk tidak mengunjungi tempat ini karena cukup berbahaya. Namun demikian pemandangan dari tempat ini sangat indah. Saya sendiri tidak punya kesempatan untuk mengunjungi tempat ini. Mungkin kalau ada kesempatan lain baru ke sana. Setelah melihat foto teman saya yang pergi ke tempat ini, nampaknya indah sekali dan semua situs arkeologi Machu Picchu dilihat seperti dari awan.


Sebelum pulang ke Aguas Calientes kami masuk sekali lagi ke Machu Picchu. Di sini orang bisa keluar masuk Machu Picchu, yang penting sudah memiliki kartu masuk Machu Picchu. Kami sendiri mulai menelusuri tempat ini sambil menikmati indahnya Machu Picchu di sore hari. Sekali lagi semua kamera kami dipenuhi dengan euforia keindahan dan daya magis Machu Picchu. Rasanya seperti di atas gunung kehidupan. Kurang lebih jam 4 sore kami turun ke Aguas Calientes bersama bis. Lika-liku jalan menurun ke Aguas Calientes membuat banyak orang tidak bisa tidur dengan baik di dalam bus karena kecapaian menikmati Machu Picchu. Di Aguas Calientes kami berjalan-jalan sebentar melihat-lihat Aguas Calientes (air panas) dan mencari sedikit souvenir yang bisa dibawa pulang.


Setelah menikmati makan sore, kami masuk ke stasiun Inca Trail untuk kembali ke Ollantaytambo. Di sini kami bertemu dengan pasangan suami istri dari Australia. Setelah bercerita dengan mereka kami masuk ke kereta. Di sini kami sudah capeh sekali. Kereta api yang bergerak sangat pelan membuat kami tertidur. Lagi-lagi di sini bahasa dari berbagai belahan dunia terdengar di sini, benar-benar kampung global. Jam 8.30 malam kami tiba di stasiun akhir Ollantaytambo. Mobil jemputan sudah menanti kami berdua di pintu keluar. Kami langsung ke tempat parkiran dan meneruskan perjalanan ke Cusco. Jam 11 malam kami tiba di Cusco. Kedinginan Cusco menyambut kami . Cuaca terdingin di Cusco bisa mencapai 4 derajat Celcius. Suasana dingin membuat kami harus cepat beristirahat. Namun sebelum istirahat malam kami minum teh mate de coca (teh daun koka) untuk melawan pusing akibat ketinggian. Namun nampaknya keindahan Machu Picchu membuat kami bahagia walaupun masih merasa pusing. Kata mereka setelah dua tiga hari di Cusco, perasaan pusing baru akan mulai hilang, setelah tubuh beradaptasi dengan cuaca atau ketinggian di Cusco.
Tibalah saatnya untuk kembali ke Lima-Peru hari berikutnya. Jam 7 pagi kami dijemput dan diantar ke bandara. Jam 9 pagi kami kembali ke Lima. Ciao Cusco, Ollantaytambo y Machu Picchu.

2 comments:

mylittlebookofdays said...

Pak keren sekali petualangan ke Machu Picchunya. Suatu hari nanti saya juga harus kesana:)

Benny Kalakoe said...

Terima kasih atas apresiasinya. Silahkan ke Peru...yang jelas di Peru ada banyak tempat wisata terkenal. Tidak hanya Machu Picchu. Masih ada Amazon, Nazca Lines, Lembah Colca etc. Silah ke Peru. Salam kenal. Benny

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons