Wednesday, 1 February 2012

PERU: MASYARAKAT INDIGENAS (PRIBUMI) YANG TERISOLASI DITEMUKAN KELUAR DARI WILAYAH TINGGAL MEREKA


Sekelompok masyarakat asli (indígenas) dari suku Mashco Piro yang hidup terisolasi di hutan Peru, dekat Taman Nasional Manu, ditemukan sedang berada dalam sebuah zona di mana para turis lewat, seperti yang disampaikan oleh sebuah organisasi internasional Survival.

Foto-foto yang berhasil dibuat menunjukkan sebuah kelompok, yang nampaknya berasal dari sebuah keluarga, orang tua dan anak-anak, setengah telanjang sedang duduk di atas sebuah batang kayu di pinggir sungai.



Berdasarkan siaran pers yang dibuat oleh Survival kemarin di Lima, dalam beberapa bulan terakhir munculnya suku-suku indígenas dari daerah tinggal mereka di Taman Nasional Manu semakin meningkat. Taman Nasional Manu ini terletak di antara daerah Cuzco dan Madre de Dios di tenggara Peru.

Sekretaris Jenderal Bidang Kawasan Lindung Nasional Peru (SERNANP),Carlos Soria, mengatakan bahwa munculnya masyarakat indígenas di tempat-tempat seperti ini sangat mengherankan.

“Mereka tinggal di Sungai Pinquén, di Taman Nasional Manu, tetapi sekarang mereka sudah berada di perbatasan, di Sungai Alto Madre de Dios. Karena itu sangat mengherankan. Biasanya mereka berada di dalam hutan”, kata Soria.

Bagi ahli masyarakat indígenas ini, masyarakat indígenas yang telah muncul di daerah lalu lintas di mana ada perahu yang membawa penumpang, ada turis yang masuk dan keluar, di pinggir sungai, merupakan tanda bahwa ada sesuatu yang mereka carikan.

“Salah satu kemungkinannya adalah mereka sedang mencari alat-alat kerja seperti parang. Alasan lain barangkali mereka sedang mencari daerah lain sebagai tempat tinggal yang berbeda dari tempat sebelumnya, untuk mencari telur kura-kura atau untuk memancing ikan”, kata Soria.

Walaupun Soria menegaskan bahwa masyarakat indígenas ini tidak memiliki kebiasaan kekerasan, namun mereka bisa saja berreaksi keras apabila mereka merasa terancam. Bulan November lalu sekelompok orang dari suku Mashco Piro membunuh Nicolás Shacho Flores, 65 tahun, seseorang yang berbicara dalam bahasa mereka. Menurut Soria, Flores dibunuh karena tidak memberikan parang yang mereka minta darinya.

"Kaum indígenas ini tidak akan menyerang orang lain, mereka hanya mengobservasi anda untuk berjaga-jaga apakah orang laing tidak menyerang mereka. Mereka tidak akan menyerang kalau tidak kita ancam, tetapi mereka akan selalu memiliki sikap untuk mengobservasi siapa saja yang mendekati mereka”, kata Soria.

Menurut informasi dari Survival, suku Mashco Piro diperkirakan memiliki 100 kampung yang letaknya terisolasi sekali dari dunia lain. Diperkirakan ada sebanyak 800 sampai 1500 orang yang tinggal di wilayah hutan liar Taman Nasional Manu.

Sumber: http://www.rpp.com.pe/2012-01-31-captan-a-indigenas-no-contactados-en-selva-sur-de-peru-noticia_446318.html

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons