Friday, 2 December 2011

SUKU MAYA (8): PERTEMUAN ORANG SPANYOL DAN MAYA


Pada tahun 1502, Christopher Columbus menemukan perahu Maya di daerah perdagangan Maya di lepas pantai Roatan, Bay Island, Honduras. Pada tahun 1511, Pastor (Misionaris) Geronimo de Aguilar dan Gonzalo Guerrero tiba di pantai Quintana Roo setelah kapal yang mereka tumpangi tenggelam. Suku Maya yang menangkap mereka tidak membunuh mereka, tapi menjadikan mereka budak.

Tidak lama kemudian, Guerrero menikah dengan seorang perempuan Maya, dan mulai membentuk sebuah keluarga dan menjadi anggota komunitas Maya. Pada saat Aguilar mengusulkan pada Guerrero untuk melarikan diri, Guerrero menolak. Akhirnya Pastor Aguilar melarikan diri seorang diri ke pulau Cozumel dan pada tahun 1519 dia bertemu dengan Hernan Cortez di sana.


Tidak lama kemudian, Gonzalo Guerrero harus berhadapan dengan orang Spanyol ketika mereka mengancam suku Maya, suku yang sudah dia pelajari, dia sayangi dan dia cintai. Setelah menaklukkan Meksiko, keinginan orang Spanyol untuk menduduki dunia Maya muncul, khususnya daerah sepanjang pantai yang telah mereka lihat dan lewati dalam perjalanan mereka tahun 1517-1519. Orang-orang Maya menolak dengan keras pendudukan bangsa Spanyol tetapi akhirnya orang-orang Spanyol barhasil menduduki beberapa wilayah di daerah Yucatan. Francisco de Montejo kemudian mendirikan kota Mérida pada tahun 1542, yang kemudian berubah menjadi pusat kekuasaan penting Spanyol. Tidak mengherankan lama kelamaan orang-orang Maya didominasi oleh orang Spanyol, dikalahkan dan orang-orang Maya harus mematuhi tuan mereka yang baru, orang-orang Spanyol.

Beberapa orang-orang Maya melarikan diri ke utara ke Guatemala. Dari sana mereka memimpin perang melawan para penindas mereka. Para "pemberontak" kaum Maya ini, baru bisa dikalahkan setelah 150 tahun setelah kedatangan Spanyol dalam pertempuran yang tidak terhitung banyaknya. Raja Spanyol menyita tanah Maya dan menjadikan mereka budak, dan memaksa mereka untuk membangun gereja-gereja dan mengubah orang-orang Maya untuk menjadi orang Kristen.



Meskipun orang-orang Maya terbiasa dengan ritual dan kepercayaan mereka, namun iman dan perayaan-perayaan di Gereja sudah menyebar dan mulai berbaur dengan kepercayaan mereka. Dengan demikian, pencampuran budaya dan darah Maya dan Spanyol telah mulai. Anak-anak Gonzalo Guerrero adalah mestizo (mestizo adalah anak dari orang Spanyol dan orang pribumi) pertama. Sebuah ras baru terlahir. Tapi pembauran antara suku atau bangsa tidak hanya terbatas dalam soal keturunan, tetapi juga dalam semua aspek kehidupan, misalnya seni, arsitektur, pertanian dan bahkan dapur.


Orang-orang Maya biasanya tinggal terpencar-pencar, baik di hutan, di pegunungan atau di lembah. Situasi ini mempersulit orang Spanyol untuk mendominasi mereka. Tidak mengherankan bahwa orang-orang Spanyol, memaksa mereka untuk tinggal di dekat kekuasaan Spanyol sehingga mudah dikontrol dan mudah diajarkan untuk menjadi Kristen. Tidak mengherankan, kota-kota baru yang mereka bangun didasarkan pada model kota di Eropa, yang memiliki alun-alun pusat kota, di mana terletak katedral, pusat pemerintahan dan jalan-jalan raya dibangun dari pusat kota ini. Sudah pasti bahwa banyak kota yang dibangun orang Spanyol diatas pusat perayaan ritual atau pusat kebudayaan Maya.

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons