Monday, 14 November 2011

MERCOSUR DAN KESULITAN MENJALANKAN PERANNYA

Keinginan negara-negara Amerika Selatan dalam sebuah Integración Sudamericano selalu mendapat tantangan. Bulan September lalu terjadi pertengkaran serius antara Uruguay dan Brasil, keduanya merupakan negara anggota MERCOSUR. Ketegangan itu dipacu karena keputusan yang diambil oleh Brasil untuk meningkatkan 30% pajak impor bagi mobil, traktor, bus, truk dan kendaraan ringan lainnya. Keputusan ini akan berlaku sampai tanggal 31 Desember 2012 yang diberlakukan bagi negara apa saja termasuk negara anggota MERCOSUR, kecuali jika kendaraan tersebut 65%nya dibuat di daerah tersebut. Secara kasat mata keputusan ini nampaknya sangat baik, karena akan melindungi industri mobil sekaligus memacu industri lokal supaya bagian-bagian kendaraan tersebut dibuat di wilayah ini.

Permasalahannya adalah ketergesahan mengaplikasikan keputusan ini tanpa mengkonsultasikannya dengan negara anggota MERCOSUR atau Amerika Selatan membuat situasi perekonomian regional goncang. Sehingga timbul kesan bahwa pengaplikasian sepihak oleh Brasil berusaha untuk melindungi industri mobil nasional Brasil. Selain itu keputusan ini tidak memperhitungkan dampak ekonomi bagi negara-negara anggota MERCOSUR. Berdasarkan semangat MERCOSUR dalam artikel pertama Perjanjian Asunción 1992 dinyatakan bahwa “sirkulasi bebas hasil produksi dan layanan jasa antara negara dilakukan antara lain dengan menghilangkan hak-hak pajak dan peraturan perpajakan dalam sirkulasi pemasaran atau cara penjualan lainnya di wilayah MERCOSUR”. Dalam hal ini, apa yang dilakukan oleh Argentina, dengan menetapkan isin impor, dan apa yang dibuat oleh Brasil tidak menghormati atau merugikan kepentingan negara-negara anggota yang lebih kecil seperti Uruguay dan Paraguay.

Akibat keputusan yang dilakukan oleh Brasil ini, Uruguay tidak bisa mengekspor 2000 kendaraan jenis EFFA ke Brasil dan banyak pekerja akhirnya diliburkan atau bekerja paruh waktu yang mengakibatkan 400 kesempatan kerja hilang. Hal ini terjadi pada pabrik EFFA dan Chery-Socma (perusahaan yang memiliki modal dari China dan Korea Selatan). Kerugian di pihak Uruguay ditaksir akan semakin meningkat karena akan berdampak pada pengurangan lapangan kerja dan kurangnya pendapatan negara yang selama ini memberikan hasil sebesar US$ 150 juta setiap tahunnya. Jumlah yang nampaknya kecil ini, sangat penting bagi negara kecil seperti Uruguay yang hanya memiliki 3 juta penduduk. Sejak Brasil menetapkan keputusan ini, Uruguay melalui Menteri Luar Negerinya, Luis Almagro, mendekati Brasil dan menjelaskan dampak ekonomi yang akan dihadapi oleh Uruguay bila keputusan itu dijalankan. Sementara Presiden Uruguay, Mujica, mengatakan bahwa masalah ini memungkinkan Uruguay keluar dari MERCOSUR, karena organisasi ini tidak memberikan kenyamanan bagi negara-negara anggota. Bahkan dengan keras Mujica mengatakan bahwa pemerintahannya akan “merencanakan kembali” keanggotaan mereka di MERCOSUR apabila Argentina dan Brasil tetap terus menjalankan politik proteksi mereka tanpa memperhatikan keberadaan negara-negara anggota lainnya.

Namun demikian, para ahli menyadari bahwa Uruguay tidak akan mungkin meninggalkan MERCOSUR, karena mereka akan kehilangan akses bebas ke pasar di wilayah ini, diluar kesulitan yang mereka hadapi sekarang ini. Yang menjadi perhatian sesungguhnya adalah tidak mampunya MERCOSUR mengatasi krisis karena peran MERCOSUR tidak diterapkan sebagaimana mestinya. Presiden Uruguay, Mujica, menyatakan bahwa krisis yang dihadapi sekarang ini adalah salah satu percobaan “menuju integrasi”. Karena jika Uruguay diperlakukan seperti negara-negara yang bukan anggota MERCOSUR, maka Uruguay harus memperjelas kembali keanggotaannya di MERCOSUR.
Setelah menyatakan keresahannya, Presiden Uruguay, Mujica, berrencana untuk bertemu dengan Presiden Brasil dan Argentina untuk meminta supaya mereka berpikir tidak hanya dalam skala nasional tetapi juga pada skala MERCOSUR. Tidak mengherankan akhir September Presiden Uruguay dan Brasil bertemu dalam meja perundingan. Sebagai hasilnya, Pemerintahan Rousseff berjanji untuk melakukan aksi secepatnya untuk membebaskan kendaraan-kendaraan dari Uruguay masuk ke Brasil. Sebagai gantinya, Uruguay mendukung rencana Brasil untuk meningkatkan pajak luar negeri umum di wilayah ini. Sementara perundingan dengan Argentina masih berada pada tingkat menteri karena susahnya mengadakan pertemuan antara Mujica dan Cristina Fernandez de Kirchner. Kesulitan yang dihadapi oleh Uruguay ini membuat MERCOSUR ompong, karena tidak mampu menjalankan fungsinya bagi semua negara anggota. Para pengusaha di Uruguay menjadi resah dan menyatakan bahwa perdagangan regional tidak bergantung pada pertemuan para presiden untuk menyelesaikan masalah yang ada.

Masalah ekonomi antar negara anggota MERCOSUR seringkali menjadi halangan untuk melakukan integrasi sesungguhnya di MERCOSUR. Negara-negara besar seperti Brasil dan Argentina sering mengambil keputusan yang tidak memperhitungkan eksistensi negara-negara anggota lainnya seperti Uruguay dan Paraguay. Situasi ini membuat integrasi MERCOSUR sebagai satu kesatuan riil di masa depan mengalami kesulitan.

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons