Thursday, 13 October 2011

PARLEMEN COLOMBIA MENOLAK PENGHAPUSAN PASAL PRO ABORSI DALAM KONSTITUSI MEREKA

Walaupun mendapat tekanan dari 5 juta orang, Komisi I Parlemen Colombia menolak untuk mengubah salah satu artikel dalam konstitusi mereka yang mendukung kegiatan aborsi. Sembilan anggota parleman tidak setuju untuk mengubah hukum tersebut dan tujuh orang mendukung untuk mengubah hukum tersebut.

Beberapa media lokal menyatakan bahwa suara yang menentukan berasal dari anggota parlemen yang bernama Karime Motta yang sebelumnya beropsi untuk mendukung penghapusan hukum aborsi tersebut, tetapi kemudia mengubah keputusannya. Dia menyatakan bahwa “saya tidak merasa diwakilkan untuk menghukum seorang ibu dalam memutuskan untuk memiliki anak atau tidak dalam rahimnya selama sembilan bulan”.

Keputusan anggota parlemen ini diambil di tengah protes keras aktivis pro-life di luar parlemen. Mereka berkumpul di luar parlemen sebagai wakil dari 5 juta orang Colombia dari berbagai aliran yang menandatangani proyek untuk memodifikasi artikel 11 Kontitusi Colombia tersebut untuk mempertahankan kehidupan sejak pembuahan dalam rahim sampai meninggal secara alamiah.

Terhadap keputusan itu, Kepala Partai Conservador, José Dario Salazar, menyatakan bahwa walaupun keputusan Parlemen seperti itu, tetapi mereka akan terus bekerja untuk mempertahankan kehidupan dan mencari cara untuk melakukan referendum supaya seluruh masyarakat Colombia yang harus memutuskan masalah ini. Sementara Kepala Kejaksaan Nasional, Alejandro Ordónez, mengatakan bahwa keputusan anggota parlemen telah menjadi “pukulan hebat” dan mengingatkan bahwa “jika kehidupan manusia untuk lahir ke dunia ini tidak dihormati, apa yang akan kita harapkan dari semua orang di masyarakat yang setiap kali bersikap individualis dan hedonis. Yang paling berbahaya adalah menciptakan sebuah produk hukum yang membiarkan seseorang membunuh yang lain karena ingin mempertahankan hidupnya sendiri”.

Dalam keputusan hasil Pengadilan Konstitusional tahun 2006 di Colombia, aborsi dibenarkan jika bayi tersebut merupakan “hasil” pemerkosaan, mengancam kematian bagi ibu dan bayi yang ada dalam kandungan cacat. Masyarakat menuntut supaya semua pengecualian itu ditolak dan kehidupan manusia apapun bentuknya harus diterima dalam semua prosesnya.

Mengetahui keputusan anggota parlemen yang menolak untuk mengubah artikel konstitusi tersebut, Sekretaris Jenderal Konferensi Para Uskup Colombia, Mgr. Juan Vicente Córdoba, menyatakan bahwa sikap Gereja adalah “terus berjuang untuk menghormati kehidupan manusia, sejak pembuahan sampai mati secara alamiah. Aborsi merupakan dosa paling besar terhadap Pencipta dan merupakan sebuah tindakan melawan hak-hak asasi manusia yang paling fundamental, hak untuk hidup”. Uskup tersebut juga menyesali bahwa keputusan yang dibuat oleh anggota parlemen tidak menunjukkan sikap yang dipegang oleh hampir sebagian besar masyarakat di Colombia.

Akhirnya dia mengajak masyarakat Colombia supaya “jangan pernah berhenti berjuang. Lebih daripada hari-hari sebelumnya, mulai sekarang kita harus memperkuat lagi komitmen kita untuk mempertahankan kehidupan dan harkat dan martabat perempuan Colombia”.

Sumber:

http://www.aciprensa.com/noticia.php?n=34984

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons