Tuesday, 9 August 2011

El Salvador: GEREJA KATOLIK EL SALVADOR MENYATAKAN KECEMASANNYA ATAS KRISIS EKONOMI AMERIKA SERIKAT BAGI EL SALVADOR


Gereja Katolik El Salvador meyatakan kecemasannya atas dampak krisis utang Amerika Serikat terhadap situasi perekonomian Amerika Latin. “Yang jelas kami cemas sekali atas situasi ini, karena bukan hal yang baru dan akan menjadi sebuah krisis dunia”, kata Uskup Agung San Salvador, José Luis Escobar Alas, dalam sebuah jumpa pers setelah misa di Katedral Metropolitana.

“Kita adalah sosio komersial dan juga memiliki kedekatan dengan Amerika Serikat”, kata Uskup tersebut. Namun demikian dia menekankan bahwa, “Krisis ini bisa menjadi sebuah kesempatan untuk mencari jalan keluar bagi perekonomian Salvador. Saya yakin situasi ini harus membawa kita kepada suatu refleksi mendalam, tentang sistem perekonomian kita, untuk mengambil cara-cara yang lebih tepat, terutama dalam hal perkembangan ekonomi”.

Ekonomi El Salvador yang “didolarisasi” sejak tahun 2001, sangat bergantung pada remesas (devisa) yang dikirim dari Amerika Serikat, yang pada semester pertama tahun ini mencapai US$ 1.813.5 juta. Jumlah ini berkembang sebesar 4.3% , bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2010, berdasarkan data dari pemerintah setempat.

Uskup Agung Escobar Alas meminta supaya, “Negara sadar pentingnya memiliki perekonomian yang independen ke depan. Walaupun ada bantuan dari luar negeri, tetapi jika suatu saat bantuan itu berhenti, kita tidak bisa berbuat apa-apa”.

Dia menekankan, “Pentingnya menciptakan lapangan kerja yang baru, pentingnya menciptakan lingkungan dan kebudayaan pembangunan yang menjamin sebuah perkembangan berkelanjutan dari negara ini, dan harus independen dan tidak bergantung pada adanya bantuan atau tidak dari negara lain. Jika bantuan itu datang, itu bagus; tetapi jika tidak datang, kita tetap terus maju tanpa mereka”.


Di pihak lain, Uskup Agung El Salvador mengulang kembali apa yang dikatakannya pada minggu lalu, bahwa Gereja El Salvador sudah memaafkan pada militer yang tertuduh menjadi pembunuh enam pastor Yesuit dan dua perempuan tahun 1989, yang sedang diproses secara hukum dan sudah diputuskan untuk menangkap para militer tersebut.

Gereja menghormati hukum Amnistia 1993 yang menguntungkan para militer dan gerilyawam yang berperang dalam perang sipil tahun 1980-1992. Namun dia menekankan supaya masyarakat harus mengenal “kebenaran” dan “keadilan” terhadap kejahatan atas para pastor Yesuit dan umat yang menjadi korban.

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons