Wednesday, 10 August 2011

Chile-Bolivia: MASALAH PERBATASAN ANTARA CHILE DAN BOLIVIA


Menlu Chile, Alfredo Moreno, mengatakan bahwa tidak ada “keangkuhan” dalam mengatakan bahwa, negaranya “tidak harus memberikan sesuatu” kepada Bolivia, yang menuntut jalan atau akses ke laut karena kalah perang pada abad XIX.

“Tidak ada keangkuhan kalau seseorang berbicara secara jujur dan langsung”, kata Moreno kepada para wartawan, setelah meresmikan sebuah seminar di Komisi Ekonomi Untuk Amerika Latin dan Karibe (CEPAL), setelah minggu lalu menyatakan bahwa negaranya “tidak harus memberikan sesuatu kepada Bolivia”.

Presiden Bolivia, Evo Morales, mengatakan kemarin bahwa deklarasi-deklarasi yang dibuat Morena menunjukkan “keangkuhan” dan “tidak mengenal sejarah” Bolivia-Chile dengan baik.

Ketika ditanya tentang, apakah pesan yang sama dikatakan kepada Evo Morales dalam pertemuan dengan Presiden Chile, Sebastian Piñera, tanggal 28 Juli lalu di Lima-Peru, Moreno menyatakan : “Sudah pasti. Apa yang sudah kami katakan secara publik, kami katakan juga secara pribadi”.

Hari Minggu lalu, Evo Morales meratifikasi bahwa dia akan membawa masalah ini ke pengadilan internasional, supaya Bolivia kembali memiliki hak atas laut. Ini tidak berarti bahwa dialog bilateral atau multilateral berhenti untuk masalah ini. Terhadap pernyataan Evo Morales, Moreno menggarisbawahi hari ini bahwa, “Bolivia dan Chile memiliki sebuah perjanjian tapal batas (El Tratado de Paz y Amistad de 1904) yang sudah berumur lebih dari seratus tahun, yang dihormati oleh kedua negara, dan sampai sekarang masih berlaku penuh”.

Menlu Chile mengeritik Bolivia yang ingin “mempertanyakan dan membawa ke pengadilan sebuah perjanjian yang sudah berumur lebih dari seratus tahun”. Dia juga mempertanyakan, “Jika ada masalah, mengapa itu tidak dilakukan sebelumnya?”.
Presiden Evo Morales, telah mengumumkan pada tanggal 23 Maret lalu, kemauannya untuk mengambil jalan pengadilan internasional untuk mencapai aspirasi akses ke laut, yang sudah mereka mulai sejak tahun 2006 dalam dialog bilateral dengan Chile. Terhadap masalah ini, Chile telah menyodorkan berbagai alternatif kepada Bolivia, tetapi sampai sekarang tidak satupun yang berhasil.
Setelah melihat ancaman dari Evo Morales, pemerintah Chile telah mengatakan kepada Bolivia, bahwa Bolivia harus memilih antara dialog atau sengketa, dan menekankan bahwa masalah ini adalah masalah bilateral yang tidak bisa dibawa kepada organisasi multilateral.
Evo Morales dan Sebastian Piñera, bertemu kembali pada tanggal 28 Juli lalu di Lima, pada saat pelantikan Presiden Peru, Ollanta Humala. Saat itu Piñera menegaskan supaya kembali berdialog tetapi dengan kondisi bahwa Bolivia menghormati Perjanjian tahun 1904, yang memberikan sebagian tanahnya kepada Chile, yakni tanah yang menghubungkan Bolivia dengan Lautan Pasifik karena kalah perang.

Juru bicara pemerintahan Chile, Andrés Chadwick, menegaskan hari ini bahwa Chile terbuka “untuk semua cara dialog dengan Pemerintah Bolivia, tetapi harus menghormati semua perjanjian internasional yang sedang berlaku”.

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons