Showing posts with label Lula Da Silva. Show all posts
Showing posts with label Lula Da Silva. Show all posts

Friday, 24 October 2014

LULA: DILMA WAKIL MASYARAKAT BRASIL VS NEVES WAKIL PARA BANKIR


Luiz Inacio Lula da Silva menegaskan bahwa kalau Brasil ingin maju harus memilih Dilma Rousseff. Baginya memilih Neves berarti kembali ke pengalaman masa lalu di mana negara hanya dikuasai oleh sekelompok elit dan hanya memperhatikan kepentingan mereka dan bukan kepentingan masyarakat terutama masyarakat miskin. Lula bahkan menegaskan bahwa Dilma adalah wakil masyarakat Brasil sementara Neves adalah wakil para bankir.

Lula menekankan bahwa Neves yang mewakili para elit di Brasil memiliki tendensi menekan masyarakat miskin di Brasil. Kaum “oligarki” di Brasil ini menolak kemajuan sosial yang dicapai oleh Partai Pekerja di mana kaum miskin memiliki peran sosial dalam ruang publik. Lula juga menyinggung sikap Neves yang tidak menghormati Dilma dalam beberapa debat capres terakhir dan menekankan bahwa Brasil tidak bisa dipimpin oleh seorang pemimpin yang tidak menghargai atau menghormati pemimpin apalagi seorang perempuan.

Lula juga mengeritik berita yang diturunkan “The Economist” yang menyatakan bahwa Neves akan memenangi pilpres tanggal 26 Oktober besok karena alasan perkembangan ekonomi yang sedang berkembang di Brasil saat ini. Dengan tegas Lula menyatakan bahwa majalah tersebut menurunkan berita bodoh. Dia menegaskan bahwa Neves adalah wakil para bankir dari dunia luar. Tetapi Brasil adalah milik masyarakat Brasil yang memiliki wakilnya sendiri yakni Dilma. 

Sumber: Prensa Latina

Thursday, 10 January 2013

DILMA ROUSSEFF TETAP POPULER WALAUPUN PEREKONOMIAN BRASIL MENURUN


Salah satu presiden yang populer di tengah masyarakatnya di Amerika Latin adalah Presiden Dilma Rousseff dari Brasil. Walaupun Brasil mengalami perkembangan ekonomi yang tidak terlalu menyakinkan tahun lalu, namun popularitasnya terus berkembang karena tindakan tegas yang diambil bagi para koruptor. 


Tidak tanggung-tanggung semua rekan kerjanya bahkan mantan Presiden Lula da Silva akan diinvestigasi untuk melihat apakah dia terlibat dalam skandal pembelian suara dalam pemilihan di Kongres tahun 2005 yang lebih dikenal sebagai “Mensalao”. Sebanyak 25 orang dari 37 orang yang dituduh, baik itu politisi maupun pengusaha, sudah dijatuhi hukumannya. 

Sementara perkembangan ekonomi Brasil tahun ini hanya sebesar 1,5% dan diharapkan tahun ini akan berkembang sampai 3%. Hal ini disebabkan karena model politik ekonomi yang dikembangkan di Brasil sendiri. Selama era Presiden Lula da Silva perkembangan ekonomi didasarkan pada meningkatkan konsumsi masyarakat dan bank-bank memberikan pinjaman kepada konsumen. Sekarang ini para konsumen harus membayar pinjaman yang ambil tahun-tahun sebelumnya dan tidak bisa mengkonsumsi lebih banyak lagi daripada yang diharapkan. Walaupun ekspor Brasil terus meningkat tetapi harga barang menurun. 

Untuk mengubah perekonomian Brasil semakin berkembang Dilma memutuskan untuk mengembangkan sikap menabung dan investasi. Untuk mendatangkan investor maka harus menghapus beberapa aturan yang harus dibayar sangat mahal di Brasil. Aturan administratif, hukum sosial, pajak yang tinggi, kredit yang mahal dan mahalnya berbisnis di Brasil harus segera ditata kembali oleh Dilma Rousseff supaya investor tertarik untuk mengembangkan investasi mereka. Investasi di Brasil hanya berkembang sebesar 18,7% dari PBI sementara Peru sampai 30% dari PBI, Chile dan Kolombia masing-masing sebesar 27% dari PBI.

Untuk mengaktifkan kembali perekonomian, Bank Sentral Brasil telah menurunkan suku bungan supaya memperkuat kredit dan menunjang konsumsi masyarakat.. Selain itu pemerintah juga sudah menurunkan pajak penjualan mobil dan beberapa hasil produk lainnya. 

Ketakutan para investor untuk berinvestasi di Brasil tidak hanya disebabkan biaya administratif yang tinggi melainkan juga karena keterlibatan pemerintah dalam kegiatan swasta yang berlebihan membuat para pengusaha pergi. 

Sunday, 12 August 2012

BRASIL: DILMA ROUSSEFF DAN AKSI ANTI-KORUPSINYA


Presiden Brasil, Dilma Rousseff, bisa dikritik tetapi bukan karena kurang integritas. Perempuan revolusioner ini pernah mengalami kejamnya diktator militer Brasil tahun 1970-an dan pernah keluar penjara dalam keadaan terluka.  Dan begitu demokrasi mulai berkembang di Brasil, dia mulai dengan sebuah karir politik di mana taktik-taktik politiknya bisa berubah tetapi misinya tidak pernah berubah. 


Dilma Rousseff melekat dengan identitas sebagai seorang perempuan yang tidak korup. Beberapa bulan setelah menjadi Presiden Brasil, dia memecat 6 menteri setelah ketahuan terlibat korupsi yang mengambil kesempatan karena jabatan sebagai menteri untuk mendapatkan beberapa keuntungan. Itulah sebabnya banyak orang mengatakan bahwa keputusannya menggantikan 6 menteri sebagai “pengadilan terbesar abad ini”, karena banyaknya skandal korupsi dalam 20 tahun terakhir di Brasil, yang bisa saja juga membawa Luis Inácio da Silva, mantan presiden Brasil yang sangat popular yang digantinya.

Adalah mungkin sekali bahwa revolusi yang dibangun oleh Dilma bisa saja sebuah karya yang membawanya ke sebuah politik masa depan bagi dirinya sendiri. Namun demikian semangat anti-korupsi yang dimiliki Dilma membuat Brasil semakin baik. Dan bukan hanya Brasil tetapi juga seluruh Amerika Latin. 

Skandal yang dikenal sebagai mensalão ditemukan untuk pertama kalinya tahun 2005, ketika Lulo da Silva masih sebagai Presiden. Tahun 2007 masalah ini di bawa ke Pengadilan Tinggi tetapi tidak ada kelanjutannya. Sekarang ini baru masalah ini mulai dilihat kembali oleh para hakim. Mereka yang dituduh terlibat adalah mantan-mantan petinggi Partai Buruh (PT) sebanyak 38 orang, dimulai dengan Kepala Kabinet Lula, José Dirceu, yang dituduh terlibat korupsi, pencucian uang dan konspirasi gelap lainnya.  

Kejahatan yang dilakukan dalam skandal ini tidak kecil. Tidak lama setelah Lula menjadi Presiden tahun 2002, Partai Buruh mulai membelokkan uang yang direncanakan untuk kepentingan publik dan dana pensiun bagi perusahaan-perusahaan negara. Uang tersebut kemudian digunakan untuk membayar gaji bulanan para anggota DPR dan Senat dengan tujuan supaya DPR dan Senat mendukung proyek-proyek yang dibuat oleh pemerintah. 

Di beberapa negara di Amerika Latin, skandal seperti ini sudah bisa membuat pemerintahan yang sedang berjalan bisa turun. Tetapi di Brasil itu tidak terjadi. Ketika skandal ini muncul, ada suara untuk menjatuhkan Lula secara konstitusional. Tetapi Lula meminta maaf atas aksi partainya dan menggantikan kepala kabinet dengan orang yang dipercayai banyak kalangan sebagai orang bersih, sehingga ia terpilih kembali tahun 2006 dengan suara yang lebih banyak lagi. 
Ketenaran karena aksi korupsi bukan merupakan halangan untuk berkarir dalam bidang politik di Brasil.  Presiden Fernando Collor de Melho misalnya diberhentikan dari jabatannya tahun 1992 karena kasus korupsi. Tetapi sekarang sudah kembali ke kancah politik dan dipilih sebagai anggota Senat. Mantan gubernur Sao Paulo, Paulo Maluf, yang masih diperiksa karena terlibat dalam jaringan suap saat menjadi gubernur, juga dipilih menjadi anggota DPR beberapa waktu lalu. Demikian juga Lula da Silva, yang juga barangkali sudah terlibat dalam skandal mensalão, juga dipilih setahun setelah skandalnya terkuak, dan saat menyelesaikan jabatannya sebagai presiden mendapat pujian dari hampir sebagian besar masyarakat Brasil.


Situasi inilah yang membuat banyak pengamat heran akan Dilma. Karena sidang pengadilan korupsi yang melibatkan partainya akan merusak partainya. Dan ini bisa saja mengurangi suara dalam pemilihan di pemerintah daerah pada bulan Oktober nanti. Apakah Dilma begitu sempurnanya sehingga mengorbankan partainya sendiri dan bahkan mengorbankan Lula?

Barang kali saja demikian. Lula dipilih menjadi Presiden Brasil saat di mana perkembangan ekonomi tertinggi terjadi dalam sejarah Brasil. Dalam masa pemerintahannya, 35 juta orang Brasil keluar dari jurang kemiskinan. Dalam situasi seperti itu adalah mudah sekali untuk memaafkan Lula yang melakukan korupsi, apalagi di Brasil di mana politikus korup bisa memiliki karir politik yang cemerlang. 

Brasil yang dipimpin oleh Dilma sudah berbeda, dan tidak berkembang lagi seperti zaman Lula. Perkembangan ekonomi tahun lalu hanya 2,5% dan dalam triwulan pertama tahun ini mengalami perkembangan sebesar 0,8%. Dilma bisa saja berpikir untuk “dipilih kembali”. Aksi membersihkan kabinetnya dari para koruptor membuat popularitasnya tinggi mencapai 77% walaupun tingkat perkembangan ekonomi tidak tinggi. Adalah mungkin sekali revolusi yang dibuat oleh Dilma memiliki tendensi karir politiknya di masa depan. Tetapi aksinya untuk membersihkan kabinet dari para koruptor merupakan aksi yang mendapat pujian baik dari masyarakat maupun dari dunia internasional. 

Bagaimana dengan korupsi di Indonesia? Harap bisa belajar banyak dari Dilma Rousseff!!

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons