Showing posts with label El Salvador. Show all posts
Showing posts with label El Salvador. Show all posts

Tuesday, 23 August 2011

El Salvador: KUNJUNGAN MENLU RUSIA DI EL SALVADOR


El Salvador adalah sebuah negara kecil. Sementara Rusia adalah negara yang secara territorial terbesar di dunia. Namun demikian di luar semua perbedaan itu, kedua negara akan melakukan secara maksimal apa yang bisa mereka lakukan dalam perjanjian kerjasama bilateral. Itulah opini yang disampaikan oleh Menlu El Salvador, Hugo Martínez.

Para diplomat Rusia dan El Salvador sudah melakukan kontak diplomatik sejak tahun 1992. Dalam kurun waktu yang lama tersebut, kedua negara belum memiliki perjanjian bilateral yang besar untuk membangun kerjasama antara kedua negara. Menlu Rusia, Serguéi Lavrov, yang baru pertama kali tiba di negara Amerika Tengah ini, menyatakan bahwa, dia datang ke Amerika Latin untuk mengisi kembali waktu yang sudah lama hilang tersebut.

Pertukaran perdagangan antara kedua negara, Rusia dan El Salvador, dalam lima tahun terakhir mencapai 30 dan 60 juta dólar Amerika Serikat. Mereka berrencana untuk meningkatkan tingkat perdagangan yang ada. Keinginan untuk meningkatkan pertukarang perdagangan inilah yang membuat kedua negara harus memperbesar perjanjian bilateral mereka.

Kemauan ini telah ditandatangani dan harus segera direalisasikan. Misalnya, perusahaan-perusahaan besar Rusia akan mendukung proyek-proyek pengusaha El Salvador. Bidang yang sudah mereka setujui dalam perjanjian bilateral itu antara lain, perdagangan makanan dan teknologi tingkat tinggi. Juga kedua negara setuju untuk membuka kedutaan kedua negara di masing-masing negara, Kedutaan Rusia di El Salvador dan Kedutaan El Salvador di Moskow.

Sumber http://actualidad.rt.com/actualidad/america_latina/issue_28686.html

Amerika Latin: MENLU RUSIA, SERGUÉI LAVROV, MENGUNJUNGI EL SALVADOR, PERU DAN VENEZUELA


Menlu Rusia, Serguéi Lavrov, tiba di El Salvador hari Senin kemarin, dalam perjalanannya selama lima hari di America Latin. Setelah mengunjungi El Salvador, Lavrov akan mengunjungi Peru dan Venezuela. Tujuan utama kunjungan ini adalah memperlebar perjanjian bilateral dan pertukaran perdagangan dengan ketiga negara tersebut. Selain itu Rusia juga ingin memberikan satu langkah lebih, untuk mendekatkan diri dengan negara-negara di Amerika Latin.

Berdasarkan informasi dari juru bicara Menlu Rusia, Alexánder Lukashévich, Menlu Lavrov akan menandatangani sebuah perjanjian tentang prinsip-prinsip dasar dalam relasi bilateral dengan El Salvador. “Dokumen ini akan meletakkan dasar legal untuk mengembangkan sebuah kerjasama multilateral”, katanya. Sementara Kemenlu El Salvador menginformasikan bahwa Lavrov dan Menlu El Salvador, Hugo Martínez, akan berdiskusi tentang bagaimana memperkuat kerjasama kedua negara di PBB.

Selama kunjungannya ini, Lavrov juga berrencana untuk melakukan pertemuan dengan para pengusaha di El Salvador, dan juga dengan Presiden El Salvador, Mauricio Funes. Dalam pertemuan itu, mereka membicarakan persetujuan lebih lanjut dalam sebuah kunjungan dari Hugo Martínez ke Rusia bulan Oktober 2011 nanti.

Pada tanggal 23 Agustus Menlu Rusia akan mengunjungi Peru, di mana dia akan berdiskusi tentang peningkatan perdagangan “sampai pada level, yang berhubungan dengan potensi yang dimiliki kedua negara”, kata Lukashévich. Kemudian akan mengunjungi Venezuela, tanggal 24 dan 25 Agustus. Di Venezuela, Menlu Rusia akan berbicara tentang rencana aksi untuk pembangunan kerjasama bilateral dalam periode 2010-2014; suatu perjanjian yang sudah ditandatangani oleh Presiden Venezuela, Hugo Chávez di Moskow. Juga mereka akan berbicara tentang perjanjian dalam bidang teknologi militer, karena Venezuela merupakan klien utama industri militer Rusia di Amerika Latin.

Sumber http://actualidad.rt.com/actualidad/america_latina/issue_28623.html

Monday, 15 August 2011

El Salvador: MANTAN PRESIDEN, ALFREDO CRISTIANI, MENYATAKAN BAHWA SPANYOL TIDAK MENGHORMATI KEDAULATAN EL SALVADOR ATAS KASUS KEMATIAN 6 PASTOR YESUIT


Mantan Presiden El Salvador, Alfredo Cristiani, menyatakan bahwa keputusan Audiencia Nacional Spanyol untuk memproseskan 20 militer El Salvador, atas kematian 6 pastor Yesuit dan dua perempuan yang bekerja bersama mereka tahun 1989, adalah sebuah campur tangan atas kedaulatan nasional.
“Apa yang sedang dilakukan oleh Audiencia Nacional Spanyol memperkosa kedaulatan negara kita, kasus ini sudah diadili di sini dan tidak harus diproses secara hukum di tempat lain”, kata Cristiani, di mana pembantaian itu terjadi saat dia bertahta sebagai presiden. Dia juga menekankan bahwa proses yang dilakukan atas militer El Salvador akan mengancam negara El Salvador, karena membuka kembali “luka-luka” perang sipil yang diderita negara itu dari tahun 1980-1992.

Cristiani, yang sekarang ini menjadi Ketua Partai Arena (Alianza Republicana Nacionalista), mengatakan bahwa selama perang, para militer dan FMLN melakukan kejahatan dan kekerasan atas hak asasi manusia. “Kekerasan dan kematian terjadi di kedua belah pihak, baik di pihak FMLN maupun di pihak Angkatan Bersenjata, karena itu dilakukan atau dibentuk Perjanjian Damai sampai dibentuk sebuah hukum amnistía”, kata Cristiani. FMLN (Frente Farabundo Martí para la Liberación Nacional) adalah kelompok aliran komunis saat itu. Yang berkuasa di Guatemala sekarang ini adalah kelompok kiri ini.

Tahun 1991, sembilan militer diproses secara hukum di El Salvador karena kasus pembunuhan enam pastor Yesuit, tetapi hanya dua dari mereka yang dinyatakan bersalah. Tetapi pada tahun 1993, setelah terbentuk Hukum Amnestia, hukum memihak FMLN. Cristiani menyatakan bahwa, “mereka yang menuntut persoalan ini di Spanyol, tidak berasal dari keluarga para pastor Yesuit yang dibunuh tersebut. Mereka sedang membuka luka lama yang sudah lama ditutup”. Cristiani juga mengeritik Audiencia Nacional de España yang mau mengadili kasus El Salvador tetapi tidak berani mengadili kasus-kasus yang dibuat oleh Diktator Spanyol Jenderal Franco.

Sumberi: http://www.diariolasamericas.com/noticia/126320/1/0/

Tuesday, 9 August 2011

El Salvador: GEREJA KATOLIK EL SALVADOR MENYATAKAN KECEMASANNYA ATAS KRISIS EKONOMI AMERIKA SERIKAT BAGI EL SALVADOR


Gereja Katolik El Salvador meyatakan kecemasannya atas dampak krisis utang Amerika Serikat terhadap situasi perekonomian Amerika Latin. “Yang jelas kami cemas sekali atas situasi ini, karena bukan hal yang baru dan akan menjadi sebuah krisis dunia”, kata Uskup Agung San Salvador, José Luis Escobar Alas, dalam sebuah jumpa pers setelah misa di Katedral Metropolitana.

“Kita adalah sosio komersial dan juga memiliki kedekatan dengan Amerika Serikat”, kata Uskup tersebut. Namun demikian dia menekankan bahwa, “Krisis ini bisa menjadi sebuah kesempatan untuk mencari jalan keluar bagi perekonomian Salvador. Saya yakin situasi ini harus membawa kita kepada suatu refleksi mendalam, tentang sistem perekonomian kita, untuk mengambil cara-cara yang lebih tepat, terutama dalam hal perkembangan ekonomi”.

Ekonomi El Salvador yang “didolarisasi” sejak tahun 2001, sangat bergantung pada remesas (devisa) yang dikirim dari Amerika Serikat, yang pada semester pertama tahun ini mencapai US$ 1.813.5 juta. Jumlah ini berkembang sebesar 4.3% , bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2010, berdasarkan data dari pemerintah setempat.

Uskup Agung Escobar Alas meminta supaya, “Negara sadar pentingnya memiliki perekonomian yang independen ke depan. Walaupun ada bantuan dari luar negeri, tetapi jika suatu saat bantuan itu berhenti, kita tidak bisa berbuat apa-apa”.

Dia menekankan, “Pentingnya menciptakan lapangan kerja yang baru, pentingnya menciptakan lingkungan dan kebudayaan pembangunan yang menjamin sebuah perkembangan berkelanjutan dari negara ini, dan harus independen dan tidak bergantung pada adanya bantuan atau tidak dari negara lain. Jika bantuan itu datang, itu bagus; tetapi jika tidak datang, kita tetap terus maju tanpa mereka”.


Di pihak lain, Uskup Agung El Salvador mengulang kembali apa yang dikatakannya pada minggu lalu, bahwa Gereja El Salvador sudah memaafkan pada militer yang tertuduh menjadi pembunuh enam pastor Yesuit dan dua perempuan tahun 1989, yang sedang diproses secara hukum dan sudah diputuskan untuk menangkap para militer tersebut.

Gereja menghormati hukum Amnistia 1993 yang menguntungkan para militer dan gerilyawam yang berperang dalam perang sipil tahun 1980-1992. Namun dia menekankan supaya masyarakat harus mengenal “kebenaran” dan “keadilan” terhadap kejahatan atas para pastor Yesuit dan umat yang menjadi korban.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons